all about electricity (indonesia)

Posts tagged ‘listrik’

PLTS Roof-top dan Pengaruh Musim terhadap Produksi Energi Listrik Tahunan

Disclaimer: Bagi teman2 yang sedang menulis skripsi, makalah ilmiah, paper dan sejenisnya, informasi yang saya sampaikan ini valid, meskipun biasanya reviewer atau dosen pembimbing akan meminta referensi yang lebih bisa dipercaya ketimbang sekedar blog pribadi. Namun demikian, saya berkeyakinan, studi empiris ini dapat memberi gambaran aktual mengenai bagaimana realisasi produksi listrik dari sebuah PLTS.

imadudd1n.wordpress.com
PLTS Roof-top 5,4 kWp di Serang, Banten

Pembangkit listrik tenaga surya atau photo-voltaic system yang akan saya cerita kan ini adalah PLTS on-grid atau grid connected PV system. Artinya, PLTS ini menghasilkan listrik dan terhubung ke jaringan, dalam hal ini jaringan tegangan rendah.

Lokasi PLTS ini ada di Serang, Banten. Kapasitasnya 5400 Watt-peak. Terpasang di atap bangunan atau roof-top mounted. PLTS ini beroperasi mulai pertengahan tahun 2019. Karena sudah beroperasi lebih dari 1 tahun, saya hendak bagi kan pengalaman kami terkait produksi listriknya.

Menurut saya hal ini penting diketahui bagi siapa pun yang berminat memasang PLTS. Saat ini banyak sekali informasi terkait PLTS, hanya saja saya pribadi melihat, informasi-informasi ini terkadang terkesan bias. Bias ini biasanya dipengaruhi oleh misi dari institusi atau lembaga afiliasi pemberi informasi.

Sebagai contoh, penjual PLTS, terutama yang reputasinya belum dikenal, cenderung akan memberikan informasi yang optimistik mengenai potensi dan hal-hal manis lainnya. Sedangkan konsumen, harus berhati-hati, jangan sampai over-estimate dan menaruh harapan yang berlebihan terhadap apa yang dapat dihasilkan PLTS. Jika PLTS dibeli dengan uang pribadi, tentu kita akan kecewa ketika produksi PLTS ini tidak sesuai harapan. Ketidaksesuaian ini sering berasal dari ketidaktahuan kita mengenai PLTS ini. Namun demikian, saat ini sudah banyak software, baik dari pabrikan atau non-pabrikan, yang membantu kita merancang PLTS. Sehingga kemungkinan kinerja PLTS kita meleset jauh dari estimasi dapat dihindari.

Memilih penjual PLTS yang terpercaya juga sangat penting. Jika PLTS yang akan anda beli tidak terlalu besar, supplier PLTS yang bonafid akan membantu kita mendisain sistem PLTS dengan benar. Untuk proyek besar, sebaiknya anda disain sendiri atau gunakan konsultan enjiniring untuk membantu anda.

Semakin banyak data yang dimasukkan ke dalam designer software, akan semakin akurat.

Sebagai contoh, saya menggunakan software online,

https://www.sunnydesignweb.com/sdweb/#/Home

dari pabrikan inverter PLTS terkenal, SMA Jerman,

https://www.sma.de/en.html

Dengan memasukkan data lokasi, merek dan jenis PV modul, saya mendapatkan disain ini:

Software ini memperkirakan produksi PLTS 1 tahun sejumlah 5750 kWh. Kapasitas grid tied inverter yang disarankan untuk 20 PV modules @270 Watt-peak adalah 4 kW. Artinya, PLTS ini akan menghasilkan daya maksimal 4000 Watt dalam kondisi terbaiknya, meskipun kapasitas PV modulnya 5400 Watt-peak. Atau rasio antara kapasitas inverter dengan kapasitas PV modules adalah 74.1%.

Kenapa kapasitas inverter lebih kecil daripada kapasitas PV modules?

Tujuannya adalah untuk mengoptimalkan produksi listrik karena besar kemungkinan PV modules selalu akan bekerja di bawah kondisi STP dan menghindari rugi-rugi akibat penggunaan inverter yang terlalu besar. Jadi, ketika sebuah keping panel PV diberi label 270 Watt-peak, maka aktualnya, produksi listriknya pasti akan di bawah 270 Watt. Penyebabnya, kondisi sinar matahari sangat jarang bersinar dalam kondisi irradians 1000 Watt/m2 dan suhu cell 25 C (STP).

Realisasi produksi 1 tahun PLTS 5,4 kWp sebesar 7308 kWh

Pada kenyataannya, PLTS ini menghasilkan energi 7308 kWh dalam setahun atau 27% lebih banyak daripada perkiraan awal. Tentu saja hal ini menggembirakan pemilik aset. Apa penyebab kinerjanya lebih baik dari rencana?

Produksi PLTS Rooftop 5.4 kWp di bulan Agustus 2019

Yang paling signifikan tentu saja pada pemilihan material, berupa modul PV dan inverter yang berkualitas. Instalasi yang benar juga berpengaruh besar. Salah satu kesalahan klasik yang sering dilakukan adalah survey lokasi yang sembarangan. Bayangan atau shading pada PV modules akan mengurangi kinerja PLTS sangat signifikan.

Inverter Sunny Boy dari SMA German

Inverter yang tidak andal dan boros energi juga dapat mengurangi kinerja PLTS. Selain merek yang teruji, lokasi pemasangan inverter juga menentukan awet tidaknya inverter.

Profil PLTS Rooftop 5,4 kWp

Selain produksi tahunan, ada hal lain yang lebih menarik. Ternyata produksi PLTS tidak konstan sepanjang tahun. Terlihat produksi pada musim kemarau (April-Oktober), dimana langit cenderung bersih, cenderung lebih baik. Pada musim hujan (Oktober-April), dimana langit sering berawan, produksinya lebih sedikit.

Produksi PLTS Rooftop 5.4 kWp pada 11 Juli 2019
Produksi PLTS Rooftop 5.4 kWp pada 13 Februari 2020

Fenomena ini terlihat jelas dalam dua grafik di atas. Ketika musim kemarau dan langit cerah, PLTS dapat menghasilkan listrik 12 jam atau sehari penuh dan dayanya maksimal 4 kW di tengah hari. Sementara itu, pada musim hujan, produksinya sangat rendah, bahkan dayanya kurang dari 2 kW di sepanjang hari tersebut. Selisih produksi listrik PLTS pada bulan di musim kemarau dengan musim hujan dapat mencapai 50%.

Dari studi empiris di atas kita dapat mengambil kesimpulan, pemasangan PLTS akan lebih menguntungkan di daerah yang jarang berawan, karena produksi akan lebih maksimal di semua bulan di sepanjang tahun. Di Indonesia, yang sangat ideal adalah daerah seperti Nusa Tenggara.

Ingin Tagihan Listrik Murah? Dengan PLTS Atap, Genset atau Konservasi Energi?

Siapa yang tidak ingin tagihan listrik rumahnya murah? Anda, saya dan semua orang pasti menginginkannya. Pertanyaannya, “Bagaimana Pak caranya?”

Sebelum menjawab hal ini, ada baiknya kita mengetahui beberapa hal pokok. Konsumen listrik rumah tangga, baik yang prabayar maupun pascabayar, membayar listrik berdasarkan jumlah energi (kWh) yang akan / telah dipakai. Energi listrik 1 kWh (kilo Watt-hour) adalah energi listrik yang kita pakai sebesar 1 kilo Watt atau 1000 Watt selama 1 jam.

Contoh peralatan listrik yang bisa dinyalakan dengan 1 kWh adalah 2 buah Air Conditioner (AC) 3/4 PK Low Watt (@ 500 Watt = 0,5 kW) selama 1 jam. Berapa yang harus dibayar? Rp 1467.

Sebelum Pandemi, seorang konsumen mempunyai kebiasaan menyalakan 4 buah AC 3/4 PK Low Watt tadi dari jam 7 malam sampai dengan jam 5 pagi (10 jam). Hal ini karena keluarga konsumen tersebut setiap hari biasa berangkat bekerja, bersekolah atau beraktivitas lainnya di pagi hari dan pulang di petang hari. Biaya listrik yang harus dibayar dalam 1 bulan = 4 x 0,5 kW x Rp 1467 x 10 jam x 30 hari = Rp 880.200.

Ketika terjadi Pandemi dan PSBB, dimana semua orang beraktivitas di rumah (WFH, SFH), kebiasaan konsumen tersebut berubah. AC dinyalakan 24 jam. Berapa yang harus dibayar? 4 x 0,5 kW x Rp 1467 x 24 jam x 30 hari = Rp 2.112.480.

Wow! Tagihan listriknya naik 2 kali lipat lebih!

Walaupun kita tahu, naiknya tagihan tersebut akibat naiknya pemakaian energi listrik, namun kita pasti tetap merasa kaget dengan tagihan tersebut. Terus, apa donk solusinya?

Suara Konsumen Listrik di Masa Pandemi

Solusi yang mungkin terpikir adalah “memproduksi listrik sendiri di rumah” untuk mengurangi tagihan listrik. Caranya bisa dengan memasang pembangkit listrik tenaga surya di atap rumah kita (roof-top solar cell) atau menyalakan genset.

Mari kita beli PLTS / solar roof-top ini dari salah satu market place. Harganya Rp 45 juta. Spesifikasinya tertulis 3,25 kWp. kWp atau kilo Watt peak berarti pada siang hari, daya yang dihasilkan biasanya maksimal 0,8 x 3,25 kW = 2,6 kW atau 2600 Watt. Karena matahari tidak bersinar 24 jam atau anggap saja matahari bersinar penuh setara 4 jam (peak sun hours), maka PLTS kita hanya akan menghasilkan 4 jam x 3,25 kW = 13 kWh. Dalam 1 bulan PLTS kita akan menghasilkan 30 hari x 13 kWh = 390 kWh. Dalam rupiah akan setara Rp 1467 x 390 kWh = Rp 572.130.

Jika kita mempunyai PLTS roof-top tadi, maka kita akan menghemat listrik Rp 572 ribu per bulan (dengan asumsi semua energi listrik yang diproduksi PLTS saat siang hari dikonsumsi di dalam rumah, tidak ada yang diekspor ke jaringan listrik luar).

Sayangnya, untuk menghemat tadi, kita harus mengeluarkan Rp 45 juta di muka. Dengan mengabaikan time value of money, maka uang Rp 45 juta tadi baru akan kembali setelah = Rp 45.000.000 / Rp 572.000 = 78 bulan atau 6 tahun lebih! Itu pun dengan asumsi PLTS kita tidak rusak sebelum waktunya. Dan ketika ada kerusakan peralatan di PLTS, maka kita masih akan mengeluarkan biaya tambahan sehingga balik modal atau pay-back period-nya semakin lama. Peralatan yang berpotensi cepat rusak dan mahal adalah on-grid inverter-nya.

Okay, mari kita lihat alternatif lain. Bagaimana dengan listrik dari genset (generator set)?

Dari salah satu market place kita mendapat sebuah genset 2000 Watt seharga Rp 3,5 juta. Kalau dibandingkan dengan PLTS yang Rp 45 juta tadi, tentu harga genset ini jauh lebih menarik. Sayangnya, genset ini butuh biaya bahan bakar, sementara cahaya matahari PLTS gratis. Genset yang ada di pasaran biasanya membutuhkan setengah liter bahan bakar untuk menghasilkan 1 kWh. Jika harga bensin Premium Rp 6450/liter, maka biaya 1 kWh dari genset akan sebesar 0,5 x Rp 6450 = Rp 3225. Jika dibandingkan dengan harga listrik dari PLN sebesar Rp 1467/kWh maka biaya listrik genset ternyata 2x lipat lebih mahal.

Wah, terus bagaimana donk? Jika memproduksi listrik sendiri tidak feasible, maka apa solusi yang paling masuk akal bagi konsumen pada umumnya?

Cara yang paling masuk akal agar tagihan listrik tidak bengkak adalah merubah perilaku pemakaian energi. Cara ini sedemikian rupa sehingga jumlah konsumsi energi relatif tidak banyak berubah meskipun kita menjadi lebih lama berada di rumah dibandingkan sebelum Pandemi.

imadudd1n.wordpress.com

Dari contoh kasus di atas, alih-alih menggunakan 4 buah AC di kamar masing-masing selama 24 jam sehari, sebuah keluarga lebih baik memusatkan aktivitasnya yang membutuhkan AC di siang hari di 1 ruangan saja. Di malam hari, ketika akan tidur, AC di kamar masing-masing baru dinyalakan.

Jika hal ini yang dilakukan, maka tagihan listrik bulanan hanya akan naik sebesar = 0,5 kW x Rp 1467 x (24-10) jam x 30 hari = Rp 308.070 atau hanya akan naik sepertiga kali dari tagihan bulan sebelumnya, tidak dua kali lipat lebih.

Kenaikan ini bisa lebih diminimalkan lagi dengan mengurangi jam hidup AC di kamar di malam hari dan menunda menyalakan AC di pagi hari ketika suhu udara belum terlalu panas.

Jika timer AC di tiap kamar tersebut di set untuk otomatis mati di pagi hari, misal di jam 3 pagi atau 2 jam lebih awal dan AC di 1 ruangan baru dinyalakan jam 9 pagi, maka tagihan listrik cuma akan naik = (10 jam – ((10 jam – 8 jam) x 4)) x Rp 1467 x 30 hari = Rp 88.020 saja.

Cara lain untuk mengurangi daya konsumsi listrik (Watt) untuk kasus di atas adalah dengan mengganti jenis AC dari Low Watt ke type Inverter. Namun cara ini membutuhkan biaya pembelian (investasi) tambahan. Pada prinsipnya, penggunaan peralatan listrik yang lebih hemat energi, seperti TV dan lampu LED, mesin cuci dan AC inverter, pompa VSD akan menguntungkan dalam jangka panjang, tetapi membutuhkan biaya pembelian (investasi) di awal yang sering kali lebih mahal dibandingkan peralatan listrik konvensional.

Hal lain yang bisa dilakukan untuk contoh kasus di atas adalah memastikan ruangan atau kamar betul-betul tertutup rapat ketika menggunakan AC. Dengan cara ini meskipun AC sudah mati pada jam 3 pagi, kamar akan masih tetap terasa dingin sampai pagi hari. Penggunaan door closer di kamar anda dapat membantu memastikan hal ini.

Dalam kehidupan normal yang baru, jika perubahan perilaku pemakaian atau konsumsi listrik yang sudah anda pelajari tadi dilanjutkan, maka sangat mungkin tagihan listrik anda ke depan akan lebih murah lagi dibandingkan tagihan sebelum masa Pandemi.

Riwayat Tagihan Listrik Seorang Konsumen yang Berhasil Menerapkan Prinsip Konservasi Energi selama Masa Pandemi di tahun 2020. Untuk mengetahui riwayat tagihan listrik anda, download apps-nya di PlayStore.

Kisah-kisah “Aneh tapi Nyata” Penyebab Listrik Padam

tales-of-power-failures

Majalah IEEE PES edisi November-Desember 2016 ini mengangkat topik utama “Shocking Tales: Strange Events Affecting Power Systems“. Isinya menceritakan bagaimana gangguan-gangguan yang terjadi di sistem ketenagalistrikan di Amerika Utara sana, yang menyebabkan listrik padam, banyak disebabkan oleh hal-hal yang “Aneh tapi Nyata”, meminjam judul acara di TVRI tahun 80-an.

Hewan-hewan liar, seperti racoon (musang) bisa menyebabkan gangguan hubung singkat ke tanah (short circuit) di sebuah gardu induk yang ada di tengah hutan. Atau kisah, bagaimana getaran pintu yang ditutup oleh petugas kebersihan (cleaning service) dapat menyebabkan proteksi saluran transmisi tenaga listrik yang berada di panel pengendali gardu induk dapat bekerja, yang menyebabkan listrik padam. Lucunya, insinyur yang menganalisis masalah tersebut kemudian membongkar pintu tersebut agar kejadian bergetarnya pintu ketika dibuka-tutup tidak terulang. Namun apa yang terjadi? Kejadian trip / lepasnya penghantar saluran transmisi kembali terulang, tapi kali ini bukan karena getaran pintu tapi akibat kotoran debu yang terakumulasi pada relay kontaktor dalam panel tersebut yang tidak beroperasi sehingga terjadi kegagalan operasi. Debu itu sendiri, setelah dianalisis, ternyata akibat hilangnya pintu ruangan cubicle tersebut, yang tadinya dianggap membuat masalah, membuat ruangan tersebut menjadi lebih sering terpapar udara luar ruangan yang membawa debu. Akhirnya diputuskan, pintu ruangan cubicle tersebut dipasang kembali, dan para petugas cleaning service tersebut diberi pelatihan agar lebih berhati-hati membuka tutup pintu ruangan itu.

Kisah-kisah seperti itu sebenarnya terjadi dimana-mana, tidak terkecuali di Indonesia. Dengan mudah kita dapat menemukan berita-berita bagaimana sebuah kejadian yang kelihatannya aneh atau tidak lazim tapi dapat mengakibatkan gangguan sistem ketenagalistrikan. Di luar Jawa, gangguan akibat pohon, tumbuhan, hewan liar, layangan sering kita temui. Problem di luar Jawa juga diperparah karena kecukupan pasokan daya listrik dibandingkan dengan permintaan konsumen biasanya pas-pasan, tidak seperti di Jawa yang cadangan pasokan dayanya cukup.

Problem padamnya listrik beberapa jam di Sumatera Utara di awal tahun baru 2017 adalah contoh kasus yang menunjukkan bahwa gangguan pada salah satu komponen peralatan yang berhubungan dengan produksi listrik dapat mengakibatkan padamnya listrik secara keseluruhan. Dalam kasus itu, sebagaimana dikutip dari harian Sinar Indonesia Baru, gangguan panel pengendali pasokan gas ke pembangkit listrik mengakibatkan katup yang mengalirkan bahan bakar gas ke pembangkit listrik menutup. Akibatnya pembangkit listrik langsung berhenti beroperasi karena pasokan bahan bakar berhenti. Karena kontribusi pembangkit listrik tersebut pada sistem ketenagalistrikan di Sumatera bagian utara cukup besar, maka kehilangan pasokan daya mendadak mengakibatkan kestabilan sistem terganggu dan black out terjadi. Penyebab gangguan pada panel pengendali pasokan gas itu sendiri tidak diketahui oleh publik, karena tidak diberitakan, tapi bisa jadi disebabkan oleh hal-hal sederhana sebagaimana dikisahkan oleh majalah IEEE PES tadi.

Saya sendiri beberapa kali melihat hal-hal itu di tempat kerja. Misal, bagaimana hewan seperti kucing, tikus, musang mencari kehangatan di musim hujan dan memilih menghangatkan diri di dalam kotak panel listrik dan akhirnya terpanggang menyebabkan short circuit. Tentu saja hal-hal itu terus diantisipasi dengan penyempurnaan struktur sipil, pest control dan rekayasa-rekayasa lain seperti melakukan modifikasi peralatan. Modifikasi minor kadang dapat memperbaiki kinerja peralatan secara drastis. Misal, kami pernah membuat saluran drainase melintang di sebuah jalan akses menuju pembangkit listrik tetapi efeknya dapat menurunkan tingkat gangguan akibat bekerjanya proteksi main transformer. Kenapa bisa seperti itu? Karena kami melihat, ternyata ketika terjadi hujan sangat lebat, jalan akses tersebut berubah menjadi sungai yang mengalirkan air dari tempat yang lebih tinggi dan air tersebut membanjiri utility duct dan berpotensi menyebabkan short circuit kabel-kabel di dalamnya. Akhirnya, seperti kutipan dalam tulisan saya beberapa tahun yang lalu, “Big blackout surprises politicians, but not the power community“.

Tol Listrik

2000px-electricity_grid_simple-_north_america-svg

Saya tergelitik untuk menulis artikel ini setelah membaca artikel di salah satu media berita online yang menyinggung “Tol Listrik”. Ketika beberapa waktu yang lalu muncul istilah “Tol Laut”, masyarakat membutuhkan waktu untuk mencerna apa kira-kira yang dimaksud dengan istilah tersebut. Nah sekarang ada yang memunculkan istilah “Tol Listrik”, istilah apalagi nih?

Masyarakat rupanya sangat menyukai penganalogian hal-hal teknis spesifik di suatu bidang keilmuan dengan hal-hal yang umum dimengerti oleh kebanyakan anggota masyarakat, tidak terkecuali istilah di bidang kelistrikan. Ilmu elektro atau listrik adalah ilmu pengetahuan alam eksak yang banyak mengandung konsep-konsep imajiner atau abstrak yang kadang perlu dianalogikan dengan konsep lain yang lebih riil atau nyata agar lebih mudah dimengerti. Teknik penganalogian ini sebetulnya tidak asing bagi mahasiswa teknik, misalnya kita mengenal analogi sistem mekanik dengan sistem elektrik.

img_20160430_123553

Dulu ketika saya masih menjadi asisten laboratorium di kampus, saya sering mencontohkan analogi atau kesetaraan antara sifat “listrik” dengan “air” kepada adik-adik mahasiswa baru. Saya ceritakan bahwa sifat air dan listrik sebetulnya mirip. Misal, air mengalir dari tempat tinggi ke tempat yang lebih rendah. Listrik (elektron) pun mengalir dari tempat dengan potensial tinggi ke tempat dengan potensial lebih rendah. Air tidak bisa mengalir (secara alamiah) dari satu tempat ke tempat lain jika tidak ada beda ketinggian (head). Listrik pun juga demikian, tidak akan ada aliran listrik jika tidak ada beda potensial antara satu titik dengan titik yang lain.

proyek-cipali-menyisakan-masalah-ighl2rugzm

Nah, dalam konteks menganalogikan “Jalan Tol” dengan “Jaringan Listrik”, bagaimana cara menyetarakannya? Setelah saya renungkan, ternyata dua konsep ini bisa dianalogikan seperti ini:

  • Jalan tol atau ada yang menyebut jalan bebas hambatan adalah adalah jalan bagi kendaraan yang bentuknya secara fisik lebih lebar, mulus, tidak ada akses langsung ke tempat tujuan akhir (misal ke rumah, kantor) tanpa harus keluar ke jalan non tol (biasa) melalui pintu gerbang tol. Tol sendiri secara harfiah artinya berbayar, artinya jalan yang hanya boleh dilewati jika kita membayar sejumlah uang.

klasifikasi-jalan-n

  • Jaringan listrik adalah “jalan” bagi listrik (elektron) berpindah dari satu titik ke titik lain.
  • Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) atau Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) adalah jaringan listrik yang dapat dianggap sebagai “jalan tol” listrik. Mengapa demikian? Karena pada SUTET/SUTT, listrik mengalir ke tempat yang bukan merupakan tujuan akhir (beban atau konsumen akhir) tanpa melalui gardu listrik (switchyard).
  • Jika jalan tol ada ujungnya dan di tempat-tempat tertentu ada gerbang tol tempat kendaraan masuk dan keluar dari jalan regular ke jalan tol dan sebaliknya, maka pada SUTT/SUTET pun juga ada ujungnya dan di tempat-tempat tertentu ada gardu induk listrik tempat listrik masuk dan keluar dari jaringan tegangan menengah atau rendah ke SUTT/SUTET atau sebaliknya.
  • Kenapa perlu jalan tol? Untuk memperlancar dan mempercepat perjalanan kendaraan dalam jumlah banyak dari satu tempat ke tempat lain. Nah, untuk pertanyaan yang sama, kenapa perlu SUTT/SUTET? Jawabnya, untuk memperlancar dan mengefisienkan perpindahan energi listrik dalam jumlah banyak dari satu tempat ke tempat lain.
  • Apa definisi memperlancar dan mempercepat di atas?
  • Pada kasus jalan tol, karena jalan tol lebih luas, lebih mulus dan ada batas kecepatan minimal, misal 60 km/jam atau 80 km/jam dan batas maksimal misal 100 km/jam, maka kendaraan akan melaju lebih cepat dan jumlahnya lebih banyak dibandingkan dengan kendaraan yang melaju di jalan biasa.
  • Pada kasus SUTT/SUTET, karena SUTT/SUTET memiliki tegangan listrik yang lebih tinggi, 150 kV atau 500 kV, maka energi listrik yang disalurkan dalam waktu yang sama akan jauh lebih banyak dibandingkan energi listrik yang disalurkan di tegangan menengah, tegangan rendah atau tegangan distribusi.
  • Jika memang SUTT/SUTET dapat menyalurkan listrik lebih banyak, kenapa tidak semua saluran listrik dibuat menjadi bertegangan tinggi semua? Jawabannya mirip dengan kenapa tidak semua jalan dibuat menjadi jalan tol. Ada pertimbangan keselamatan (safety), ekonomis dan ketepatan peruntukannya, misal jika jaraknya dekat dan volume kendaraan sedikit, maka buat apa dibuat jalan tol. Demikian pula untuk listrik, jika energi listrik yang disalurkan sedikit dan jaraknya dekat, saluran penghantarnya tidak perlu dibuat bertegangan tinggi.
  • Bagaimana dengan kemacetan di jalan tol? Apakah bisa dianalogikan juga pada jaringan listrik? Nah kalau yang ini, jaringan listrik diatur sedemikian rupa oleh pusat pengatur beban (load dispatcher) sehingga tidak sampai terjadi konjesti (congestion) atau listrik yang masuk dan keluar pada SUTT/SUTET melebihi kapasitas penghantarnya atau “jalan listrik”-nya.
  • Apa yang terjadi jika karena suatu hal, SUTT/SUTET kelebihan kendaraan, eh kelebihan beban maksudnya 😉 ? Yang pasti sistem proteksi atau pengaman akan bekerja secara bertingkat, misal secara otomatis melepas beban di gardu listrik sesuai setelan (setting) atau bahkan melepas pemasok listrik (pembangkit listrik) yang menginjeksikan energi listrik ke SUTT/SUTET itu.

Lebih jauh lagi, bisa saja dianalogikan bahwa jalan raya (non tol) itu mirip Jaringan Tegangan Menengah (JTM). Di jalan raya biasanya konsumen besar, seperti kantor, pabrik, mall mendapat akses langsung ke jalan tersebut, demikian juga dengan konsumen besar listrik di jaringan tegangan menengah. Sedang konsumen kecil seperti perumahan biasanya berada di jalan yang lebih kecil, pada jaringan listrik pun juga demikian, konsumen kecil biasanya dilayani di Jaringan Tegangan Rendah (JTR) atau 400/230 V.

Filosofi kenapa harus ada jalan tol, jalan besar atau jalan nasional/propinsi dan jalan kecil/perumahan boleh dibilang mirip dengan kenapa harus ada SUTT/SUTET, JTM, JTR yaitu agar kebutuhan masyarakat dapat dilayani dengan tepat, andal dan efisien.

definisi tegangan

Definisi Tegangan menurut SPLN 1:1995

Indonesia Power, 20 Tahun Membangkitkan Listrik untuk Negeri

logo 20 tahun IP

Hari Sabtu 3 Oktober 2015 kemarin saya berkesempatan menghadiri undangan syukuran 20 Tahun Membangkitkan Listrik untuk Negeri dari PT Indonesia Power, perusahaan tempat saya berkarya saat ini. Acara ini dimeriahkan oleh sambutan para sesepuh pendiri dan pengurus perusahaan dari era kelahirannya sampai dengan saat ini, seperti Bapak Eddie Widiono, Firdaus Akmal, Abimanyu Suyoso, Tonny Agus Mulyantono, Djoko Hastowo, Supangkat Iwan Santoso, Antonius RT Artono, I Gusti Agung Ngurah Adnyana, Aries Mufti, beberapa di antaranya hadir di acara syukuran ini.

Perusahaan ini bersama induknya, PT PLN (Persero), dan saudaranya, PT Pembangkitan Jawa Bali (PJB), memiliki sejarah yang sangat panjang, diawali dari sejak jaman sebelum kemerdekaan sampai dengan saat ini. PT Indonesia Power bergerak di bisnis pembangkitan tenaga listrik, termasuk penyediaan jasa yang terkait melalui anak-anak perusahaannya, untuk dikirim ke sistem transmisi dan distribusi, sebelum listrik dikonsumsi oleh masyarakat. Boleh dibilang jika membicarakan penyediaan listrik di Indonesia, PT Indonesia Power dan PT PJB lah sebetulnya yang ada di balik layar yang mendukung PT PLN (Persero) dengan porsi pembangkitan tenaga listrik terbesar di Indonesia. Perusahaan ini boleh dibilang merupakan universitasnya ilmu pembangkitan listrik di Indonesia karena memiliki kompetensi pengelolaan berbagai jenis pembangkitan listrik berbahan bakar fosil maupun yang berasal dari sumber energi terbarukan (renewable resources), seperti PLTU batubara, PLTG, PLTGU minyak/gas, PLTD, PLTDG, PLTA, PLTMH, PLTP (geothermal / panas bumi).

Saya menyempatkan mengambil gambar poster-poster di acara tersebut yang menceritakan sejarah pembangkitan listrik di Indonesia yang terkait dengan perusahaan ini, yang saya tulis ulang berikut:

IMG_20151003_091949

1945-1960

  • Pengambilalihan Perusahaan Listrik dan Gas yang dikuasai Jepang setelah Proklamasi 17 Agustus 1945.
  • Dibentuknya Djawatan Listrik dan Gas dengan kapasitas listrik 157,5 MW pada tanggal 27 Oktober 1945 oleh Presiden Soekarno.
  • Kongres SBLGI Lasykar Listrik dan Gas pada bulan Mei 1947 di Malang.
  • Pengambilalihan perusahaan listrik ANIEM di Surabaya, pada tanggal 2 November 1954 oleh Ir. R.M. Koesoemaningrat dan Ir. F.J. Inkriwang.
  • Program Listrik Masuk Desa pada Hari Listrik Nasional tanggal 27 Oktober 1960.

IMG_20151003_092000

1961-1995

  • Pembentukan Badan Pimpinan Umum Perusahaan Listrik Negara (BPU-PLN) yang bergerak di bidang Listrik, Gas dan Kokas pada tanggal 1 Januari 1961.
  • Pembubaran BPU-PLN dan dibentuknya 2 Perusahaan Negara, yaitu Perusahaan Listrik Negara (PLN) dan Perusahaan Gas Negara (PGN) pada tanggal 1 Januari 1965.
  • Status Perusahaan Listrik Negara sebagai Perusahaan Umum Listrik Negara (PLN) pada tahun 1972.
  • Status PLN dari status Perusahaan Umum menjadi Perusahaan Perseroan (Persero) pada tanggal 16 Juni 1994.

IMG_20151003_092023

IMG_20151003_092017

1995-2000

  • Pendirian PT PLN Pembangkit Tenaga Listrik Jawa-Bali I (PLN PJB I) pada tanggal 3 Oktober 1995.
  • Perubahan nama PT PLN PJB I menjadi PT Indonesia Power (1 September 2000).
  • Pendirian anak perusahaan PT Artha Daya Coalindo (ADC) pada tanggal 21 Oktober 1997.
  • Pendirian anak perusahaan PT Cogindo Daya Bersama (CDB) pada tanggal 15 April 1998.
  • Pendirian anak perusahaan PT Rekadaya Elektrika (RE) pada tanggal 20 Oktober 2000.

IMG_20151003_092218

2006-2010

  • Penetapan sasaran untuk perwujudan Visi Perusahaan, yaitu mempertahankan dan meningkatkan kapasitas dan kinerja jangka panjang untuk kelangsungan dan pertumbuhan Perusahaan dengan “Landasan yang Kuat” dan penetapan target pencapaian 10% Perusahaan pembangkit kelas dunia di tahun 2015.
  • Pendirian anak perusahaan PT Indo Ridlatama Power (IRP) pada tanggal 20 September 2007.
  • Pendirian anak perusahaan PT Tangkuban Parahu Geothermal Power pada tanggal 1 Oktober 2009.
  • Pembentukan Unit Jasa Pembangkitan Banten 2 Labuan pada tanggal 11 Januari 2010.

IMG_20151003_092226

2011-2015

  • Transformasi menuju Operation & Maintenance (O&M) Excellence.
  • Penetapan target World Class Services (WCS) 2015.
  • Pengembangan portofolio usaha dan penetapan tahap pencapaian Visi Perusahaan melalui penetapan tujuan.
  • Menjalankan program strategis dan pengembangan organisasi Perusahaan 2013.
  • Pembentukan UJP Jabar 1 Pelabuhan Ratu pada tanggal 21 Februari 2011.
  • Pendirian anak Perusahaan PT Rajamandala Electric Power pada tanggal 14 Februari 2012.
  • Pendirian anak Perusahaan PT Perta Daya Gas pada tanggal 26 April 2012.
  • Pembentukan UJP Jateng 2 – Adipala 26 Juli 2013.
  • Pendirian anak Perusahaan PT Putra Indotenaga pada tanggal 20 Desember 2013.
  • Pembentukan UJP Pangkalan Susu pada tanggal 20 Januari 2014.
  • Pembentukan UPJP Bali pada tanggal 3 Maret 2014 yang mengelola pembangkit di kawasan Indonesia Timur yang terdiri dari:
    • PLTU Barru, Makassar
    • PLTP Ulumbu, NTT
    • PLTU Jeranjang, Lombok
    • PLTU Haultecamp, Papua
    • PLTU Ambon
    • PLTU Sanggau, Kalbar.

IMG_20151003_092116

Museum Listrik Taman Mini, 3 Oktober 2015, foto manajemen dan pegawai IP di tengah acara syukuran.

Awan Tag

Nulis Apaan Aja Deh

all about electricity (indonesia)