all about electricity (indonesia)

Archive for the ‘Renewable Energy’ Category

Indonesia Power, 20 Tahun Membangkitkan Listrik untuk Negeri

logo 20 tahun IP

Hari Sabtu 3 Oktober 2015 kemarin saya berkesempatan menghadiri undangan syukuran 20 Tahun Membangkitkan Listrik untuk Negeri dari PT Indonesia Power, perusahaan tempat saya berkarya saat ini. Acara ini dimeriahkan oleh sambutan para sesepuh pendiri dan pengurus perusahaan dari era kelahirannya sampai dengan saat ini, seperti Bapak Eddie Widiono, Firdaus Akmal, Abimanyu Suyoso, Tonny Agus Mulyantono, Djoko Hastowo, Supangkat Iwan Santoso, Antonius RT Artono, I Gusti Agung Ngurah Adnyana, Aries Mufti, beberapa di antaranya hadir di acara syukuran ini.

Perusahaan ini bersama induknya, PT PLN (Persero), dan saudaranya, PT Pembangkitan Jawa Bali (PJB), memiliki sejarah yang sangat panjang, diawali dari sejak jaman sebelum kemerdekaan sampai dengan saat ini. PT Indonesia Power bergerak di bisnis pembangkitan tenaga listrik, termasuk penyediaan jasa yang terkait melalui anak-anak perusahaannya, untuk dikirim ke sistem transmisi dan distribusi, sebelum listrik dikonsumsi oleh masyarakat. Boleh dibilang jika membicarakan penyediaan listrik di Indonesia, PT Indonesia Power dan PT PJB lah sebetulnya yang ada di balik layar yang mendukung PT PLN (Persero) dengan porsi pembangkitan tenaga listrik terbesar di Indonesia. Perusahaan ini boleh dibilang merupakan universitasnya ilmu pembangkitan listrik di Indonesia karena memiliki kompetensi pengelolaan berbagai jenis pembangkitan listrik berbahan bakar fosil maupun yang berasal dari sumber energi terbarukan (renewable resources), seperti PLTU batubara, PLTG, PLTGU minyak/gas, PLTD, PLTDG, PLTA, PLTMH, PLTP (geothermal / panas bumi).

Saya menyempatkan mengambil gambar poster-poster di acara tersebut yang menceritakan sejarah pembangkitan listrik di Indonesia yang terkait dengan perusahaan ini, yang saya tulis ulang berikut:

IMG_20151003_091949

1945-1960

  • Pengambilalihan Perusahaan Listrik dan Gas yang dikuasai Jepang setelah Proklamasi 17 Agustus 1945.
  • Dibentuknya Djawatan Listrik dan Gas dengan kapasitas listrik 157,5 MW pada tanggal 27 Oktober 1945 oleh Presiden Soekarno.
  • Kongres SBLGI Lasykar Listrik dan Gas pada bulan Mei 1947 di Malang.
  • Pengambilalihan perusahaan listrik ANIEM di Surabaya, pada tanggal 2 November 1954 oleh Ir. R.M. Koesoemaningrat dan Ir. F.J. Inkriwang.
  • Program Listrik Masuk Desa pada Hari Listrik Nasional tanggal 27 Oktober 1960.

IMG_20151003_092000

1961-1995

  • Pembentukan Badan Pimpinan Umum Perusahaan Listrik Negara (BPU-PLN) yang bergerak di bidang Listrik, Gas dan Kokas pada tanggal 1 Januari 1961.
  • Pembubaran BPU-PLN dan dibentuknya 2 Perusahaan Negara, yaitu Perusahaan Listrik Negara (PLN) dan Perusahaan Gas Negara (PGN) pada tanggal 1 Januari 1965.
  • Status Perusahaan Listrik Negara sebagai Perusahaan Umum Listrik Negara (PLN) pada tahun 1972.
  • Status PLN dari status Perusahaan Umum menjadi Perusahaan Perseroan (Persero) pada tanggal 16 Juni 1994.

IMG_20151003_092023

IMG_20151003_092017

1995-2000

  • Pendirian PT PLN Pembangkit Tenaga Listrik Jawa-Bali I (PLN PJB I) pada tanggal 3 Oktober 1995.
  • Perubahan nama PT PLN PJB I menjadi PT Indonesia Power (1 September 2000).
  • Pendirian anak perusahaan PT Artha Daya Coalindo (ADC) pada tanggal 21 Oktober 1997.
  • Pendirian anak perusahaan PT Cogindo Daya Bersama (CDB) pada tanggal 15 April 1998.
  • Pendirian anak perusahaan PT Rekadaya Elektrika (RE) pada tanggal 20 Oktober 2000.

IMG_20151003_092218

2006-2010

  • Penetapan sasaran untuk perwujudan Visi Perusahaan, yaitu mempertahankan dan meningkatkan kapasitas dan kinerja jangka panjang untuk kelangsungan dan pertumbuhan Perusahaan dengan “Landasan yang Kuat” dan penetapan target pencapaian 10% Perusahaan pembangkit kelas dunia di tahun 2015.
  • Pendirian anak perusahaan PT Indo Ridlatama Power (IRP) pada tanggal 20 September 2007.
  • Pendirian anak perusahaan PT Tangkuban Parahu Geothermal Power pada tanggal 1 Oktober 2009.
  • Pembentukan Unit Jasa Pembangkitan Banten 2 Labuan pada tanggal 11 Januari 2010.

IMG_20151003_092226

2011-2015

  • Transformasi menuju Operation & Maintenance (O&M) Excellence.
  • Penetapan target World Class Services (WCS) 2015.
  • Pengembangan portofolio usaha dan penetapan tahap pencapaian Visi Perusahaan melalui penetapan tujuan.
  • Menjalankan program strategis dan pengembangan organisasi Perusahaan 2013.
  • Pembentukan UJP Jabar 1 Pelabuhan Ratu pada tanggal 21 Februari 2011.
  • Pendirian anak Perusahaan PT Rajamandala Electric Power pada tanggal 14 Februari 2012.
  • Pendirian anak Perusahaan PT Perta Daya Gas pada tanggal 26 April 2012.
  • Pembentukan UJP Jateng 2 – Adipala 26 Juli 2013.
  • Pendirian anak Perusahaan PT Putra Indotenaga pada tanggal 20 Desember 2013.
  • Pembentukan UJP Pangkalan Susu pada tanggal 20 Januari 2014.
  • Pembentukan UPJP Bali pada tanggal 3 Maret 2014 yang mengelola pembangkit di kawasan Indonesia Timur yang terdiri dari:
    • PLTU Barru, Makassar
    • PLTP Ulumbu, NTT
    • PLTU Jeranjang, Lombok
    • PLTU Haultecamp, Papua
    • PLTU Ambon
    • PLTU Sanggau, Kalbar.

IMG_20151003_092116

Museum Listrik Taman Mini, 3 Oktober 2015, foto manajemen dan pegawai IP di tengah acara syukuran.

Laboratorium Tenaga Air (LTA) Cipayung

Beberapa hari yang lalu saya mendapat undangan pembahasan salah satu draft Standar PLN (SPLN) dari PLN Puslitbang. Dalam undangan tsb. disebutkan lokasi tempat pembahasan ada di LTA Cipayung. Beberapa kali saya memang sudah pernah menghadiri acara dari PLN di daerah Puncak, namun belum pernah di LTA Cipayung. Saya coba googling untuk mengetahui lokasi tepatnya. Dari jalan raya menuju Puncak, akses masuknya dari jalan/gang Habib Umar (kanan jalan dari arah bawah). Penunjuk arahnya kecil, jadi harus jeli untuk mencarinya. Setelah tiba lokasi, LTA Cipayung ini ternyata tempat asri yang tersembunyi dari keramaian, tempat yang cocok untuk brainstorming bagi tim kecil kami, betul-betul tempat untuk “escape vacation”. LTA ini sebenarnya adalah laboratorium untuk menguji turbin air bagi PLTM/PLTMH.

Bisnis PLTMH sendiri saat ini adalah bisnis yang cukup menggiurkan bagi investor, listriknya pasti dapat dijual. Namun demikian analisis proyeknya harus hati-hati. Kita harus jeli melihat naik turunnya debit air sepanjang tahun terkait dengan kondisi alam di sumber air (hulu), ketinggian jatuh air (head), kondisi tanah (bergerak, rawan longsor dan banjir atau tidak) dan yang tidak kalah penting adalah perijinan. Saat ini hampir semua daerah aliran sungai yang potensial untuk dibuat PLTM/PLTMH sudah ada pemegang ijin lokasinya walaupun dari Pemda setempat ada jangka waktu masa berlakunya. Pilihan yang masuk akal adalah memasukkan komponen biaya akuisisi ijin lokasi dari pemegang ijin yang ada sebagai bagian dari investasi. Salah satu cara cepat untuk mempelajari bisnis ini, adalah dengan bergabung ke grup diskusi Jejaring Mikrohidro Indonesia.

LAB TENAGA AIR PLN 2 LAB TENAGA AIR PLN

Isolated System Operation Cost Cutting by CNG-Gas Engines Generation (Reliability and Economic Review, PLTMG Bawean Case Study)

Sorry, I’m going to write this article in Bahasa Indonesia, I change my mind once I begin to write the first paragraph.

Artikel saya kali ini, berkaitan dengan beberapa artikel saya yang terdahulu, yang membicarakan apa itu sistem tenaga listrik yang terisolasi dari jala-jala utama, apa problem dan tantangannya, kenapa ide penggunaan sumber energi terbarukan ternyata bukan pil ajaib yang bisa menyelesaikan semua problem sekaligus pada sistem yang terisolasi, sekaligus kaitannya dengan penggunaan bahan bakar gas dalam bentuk CNG yang mulai banyak digunakan di pembangkit listrik. Sebelumnya saya akan sedikit mengulas ulang, topik saya yang lalu yang terkait dengan CNG.

Dalam beberapa bulan ini saya beruntung bisa berkesempatan mengunjungi fasilitas-fasilitas pembangkit listrik tenaga gas milik PLN dan anak-anak usahanya yang dilengkapi dengan CNG Plant. Saya telah mengunjungi fasilitas-fasilitas tersebut yang berada di:

  1. Grati, Pasuruan, Jawa Timur
  2. Tambaklorok, Semarang, Jawa Tengah
  3. Muara Tawar, Bekasi, Jawa Barat
  4. Jakabaring, Palembang, Sumatera Selatan
  5. Sei Gelam, Jambi
  6. Kijang, Pulau Bintan, Batam
  7. Pulau Bawean, Gresik, Jawa Timur

Tiap fasilitas tersebut memiliki keunikan, karena memang problem yang dihadapi di masing-masing lokasi bervariasi. Dari segi disain, CNG Plant di lokasi-lokasi tersebut dapat dibagi menjadi 2 kelompok besar:

  1. Fasilitas CNG Plant Mother-Daughter Station berada di lokasi yang sama (nomor 1 sampai 5)
  2. Mother dan Daughter Station CNG Plant berada di lokasi berbeda dan dipisahkan oleh perairan (nomor 6 dan 7)

Namun demikian, rumus kapan CNG Plant dibutuhkan di pembangkit listrik tetap sama:

  1. Ada pembangkit listrik yang berbahan bakar gas, baik berupa PLTG (Gas Turbine), PLTMG (Gas Engine) ataupun PLTDG (Diesel-Gas Engine)
  2. Bahan bakar berupa Gas Alam tersedia dalam bentuk gas pipa
  3. Pola kebutuhan listrik tidak rata (peak-off peak daily load curve)
  4. Harga bahan bakar minyak solar (HSD fuel oil) non subsidi lebih tinggi daripada harga gas bahkan setelah diproses menjadi CNG dan LNG dan diregasifikasi lagi

Jika keempat syarat tersebut terpenuhi, maka fasilitas CNG Plant layak dibangun di pembangkit listrik tersebut. Namun untuk syarat nomor 3 menjadi tidak wajib, ketika pembangkit listrik dengan bahan bakar gas berada di sistem yang terisolasi dengan main grid.

Nah, yang terjadi di sistem yang terisolasi, yang disebabkan oleh kondisi geografis berupa pulau kecil yang relatif jauh dari pulau besar tempat jala-jala besar berada, maka strategi penyediaan listrik dengan biaya yang ekonomis dan andal (reliable) menjadi problem yang tidak mudah.

Kenapa harus ada 2 kriteria, berupa:

  1. Andal
  2. Ekonomis

Hal ini karena, seringkali dua kriteria ini tidak bisa dipenuhi dalam saat yang bersamaan.

Misal, jika kita kita mengejar kriteria andal, maka jalan tercepat dan termudah adalah menyediakan PLTD (diesel engine) berbahan bakar minyak untuk pulau-pulau terpencil itu. Namun strategi ini berakibat kepada tidak ekonomisnya / mahalnya biaya operasi sistem tenaga listrik di pulau tersebut.

Banyak orang berpikir untuk menggunakan sumber-sumber energi terbarukan (renewable energy sources / RES) di pulau-pulau kecil tersebut untuk mengejar kriteria ekonomis. Bukan kah sinar matahari melimpah ruah di Indonesia ? Atau menggunakan tenaga angin yang bertiup di khatulistiwa ? Atau bahkan menggunakan energi pasang surut air laut ? Namun pengalaman menunjukkan, ketika sumber energi terbarukan coba dimanfaatkan, tapi tidak didahului oleh studi kelayakan yang komprehensif dan mendalam, seringkali yang ditemui adalah kegagalan, wasting money.

Sebagai contoh adalah penggunaan solar cell untuk PLTS, yang sering menjadi target proyek percontohan berbagai institusi. Biaya investasi solar cell sendiri memang cenderung turun dari waktu ke waktu jika dikuantifikasi dalam satuan Rupiah atau USD per kW peak, berkat penemuan teknologi-teknologi terbaru pada solar cell film. Namun penggunaan PLTS pada sistem yang terisolasi, membutuhkan investasi ekstra berupa fasilitas penyimpanan energi berupa baterai, sebagai penjaga stabilitas sistem. Apa yang terjadi jika kita nekat menggunakan PLTS pada sistem terisolasi tanpa baterai? Sistem akan menjadi sangat tidak stabil, mengingat sistem yang isolated biasanya tidak terlalu besar, hanya di orde beberapa ratus kW atau beberapa MW saja. Bandingkan dengan sistem tenaga listrik Jawa yang beban puncaknya sudah melewati 20000 MW tahun lalu. Gangguan sedikit saja pada solar cell akan mengganggu kestabilan isolated system. Ingat, prinsip RES sebaiknya tidak lebih dari 20% dari total suplai untuk sistem ketenagalistrikan, dengan pertimbangan stabilitas sistem.

Baterai yang digunakan pun tidak bisa sembarang baterai, harus punya kemampuan cyclic, charging-discharging yang memadai. Dan sayangnya, tidak seperti trend harga solar cell yang bisa menurun, harga baterai cenderung stabil dari waktu ke waktu, sehingga PLTS dengan baterai mungkin hanya “murah” dalam biaya operasi, namun mungkin sebetulnya tidak terlalu ekonomis jika biaya investasi secara keseluruhan dalam life cycle cost-nya diperhitungkan.

Paper yang cukup komprehensif menjelaskan narasi di atas dan tersedia online, bisa dibaca pada tulisan Pak Ehnberg.

Nah, lalu bagaimana jalan keluarnya?

Menurut pengamatan saya, yang bisa kita lakukan adalah melakukan optimasi dari alternatif-alternatif penyediaan listrik di sistem terisolasi. Kita jangan sampai terjebak pada “fanatisme” solusi-solusi yang cenderung sektoral, tidak mau melihat solusi lain. Secara empiris, penyediaan tenaga listrik bagi konsumen di Pulau Bawean yang dilayani oleh PLN Distribusi Jawa Timur bekerja sama dengan PT PJB dapat menjadi bahan studi yang menarik. Usaha pengurangan biaya operasi dilakukan dengan substitusi bahan bakar minyak, yang semula dipakai oleh PLTD, mulai digantikan oleh bahan bakar gas dari CNG, yang dipakai oleh PLTMG. Substitusi ini tidak mudah, mengingat CNG harus dibawa melalui laut dari Gresik ke Pulau Bawean yang berjarak lebih dari 60 mil laut. Meski demikian, solusi ini secara empiris telah terbukti bisa direalisasikan dan dinikmati hasilnya.

Berikut foto-foto dari perjalanan saya ke Pulau Bawean:

bawean distancebawean

bawean pltmg cngbawean single line  bawean jettybawean jenbacher gas engine freq control   bawean cng tube skid bawean cng daughter station

Penggunaan Flywheel Energy Storage System sebagai Strategi Kontrol untuk Beban yang Sangat Fluktuatif pada Jala-jala Terisolasi

Judul tulisan saya ini mungkin mengingatkan teman2 sekalian dengan model judul2 sebangsa paper, skripsi, thesis dkk. Tidak perlu mengerutkan kening dulu, disini saya tulis ulang paper saya dalam bahasa “manusia“, bahasa yang lebih dimengerti oleh kita2 hehe..

Kenapa Ada Sistem Tenaga Listrik yang Terisolasi..

Di dunia ini, banyak daerah pedalaman atau sebuah pulau terpencil, yang tidak terhubung dengan grid/STL yang besar. Alasan utama kenapa tidak dikonek biasanya karena pertimbangan ekonomis. Bayangkan saja misalnya, berapa biaya yang dibutuhkan untuk menggelar kabel laut dari pulau Karimun Jawa, jika ingin kita hubungkan dengan Tanjung Jati/Jepara di pulau Jawa. Contoh lain adalah STL terisolasi di daerah pertambangan seperti di Freeport, Papua. Di daerah tambang seperti itu, bebannya cukup tinggi, namun dipasok dari pembangkit listrik lokal yang ada disitu, tidak dipasok dari grid.

Permasalahan di Isolated Grid..

STL di jala2 terisolasi biasanya menggunakan pembangkit listrik dengan biaya operasi mahal, seperti mesin diesel dan turbin gas. Untuk mengurangi operational cost, biasanya orang berpikir menggunakan pembangkit listrik dari sumber energi terbarukan (renewable energy sources/RES). Sayangnya RES ini bukan tanpa persoalan. Energi listrik dari sumber energi terbarukan menyimpan masalah2 yang sering tidak diketahui oleh orang awam.

Permasalahan pertama adalah ketidakstabilan energi listrik yang dihasilkan dari RES. Contoh yang paling jelas adalah turbin angin. Permasalahan kedua, baik pembangkit dari sumber konvensional maupun RES, kadang tidak mampu mengikuti fluktuasi beban yang sangat dinamis, jika hal ini terjadi di sistem yang terisolasi. Rule of thumb bagi RES adalah pembangkit RES konsentrasinya tidak boleh terlalu besar karena akan mengganggu  kestabilan sistem. Australia bahkan cuma memproyeksikan pembangkit dengan RES maksimal di angka 20% saja. PSS (Power System Stabilizer) biasanya juga tidak ada di sistem kecil yang terisolasi.

Contoh Kasus: STL di sebuah Tambang Batubara

Pada ilustrasi di atas, sistem ini tidak membutuhkan Flywheel Energy Storage System (FESS) jika tidak ada beban berupa Dragline. Dragline adalah alat berat yang biasa dipakai di surface mining. Jika Dragline dioperasikan, maka frekuensi akan sangat goncang jika tidak distabilkan oleh FESS. Aplikasi flywheel ini sendiri sebenarnya juga sudah lama dikenal di generator2 hidro. Perbedaannya, FESS sekarang banyak dikombinasikan dengan peralatan elektronika daya seperti inverter, capacitor berikut controller2-nya.

Sistem ini dimodelkan dengan VisSim menjadi sbb:

 

Hasil Simulasinya..

Dari hasil simulasi ini terlihat bahwa FESS melepas energi ketika beban (Dragline) menyerap energi secara drastis. FESS menyerap energi ketika Dragline tidak terlalu berbeban. Mungkin ada pertanyaan, apa keunggulan FESS dalam kasus ini dibanding pengaturan frekuensi secara konvensional. FESS punya kelebihan dalam hal kecepatannya dalam menyerap dan melepas energi. Mekanisme penyimpanan energi sebenarnya ada beberapa metode (capacitor, batere, PLTA Pompa, dll) dengan kelebihan dan kekurangannya. FESS dalam hal ini diyakini akan mampu meningkatkan penetrasi pembangkit dengan RES sampai dengan 33%.

Harga Beli Listrik dari Energi Alternatif dan Subsidi Listrik 2008

Artikel ini bermula dari sebuah topik di milis IndoEnergy yang membahas harga beli PLN untuk energi alternatif dan keingintahuan masyarakat bagaimana subsidi listrik dihitung. Pada intinya ada sebagian anggota milis yang mempertanyakan hal2 yang dianggap kontradiktif dalam pengembangan energi terbarukan, seperti dasar hukum pemberian harga beli energi listrik dari suatu PLTMH di Jawa Barat yang hanya Rp 432/kWh. Sedikit berbagi dasar hukum aturan main ketenagalistrikan di Indonesia,       

http://www.djpp.depkumham.go.id/inc/buka.php?d=1900+85&f=uu15-1985bt.htm
http://www.esdm.go.id/prokum/pp/2006/pp_26_2006.pdf
http://www.esdm.go.id/prokum/permen/2007/permen-esdm-04-2007.pdf
http://www.esdm.go.id/prokum/permen/2006/permen-esdm-02-2006.pdf       

Intinya, menurut hirarki peraturan di Indonesia, dengan dibatalkannya UU No 20/2002, maka UU No 15/1985 masih menjadi dasar bagi semua aturan di bawahnya. Harga jual listrik dari masyarakat ke PKUK (PLN) adalah sesuai dengan Permen ESDM 02/2006, termasuk mengenai aturan harga jualnya adalah 0.8 x BPP jika masuk ke tegangan menengah dan 0.6 x BPP provinsi jika masuk ke tegangan rendah. Dalam hal ini PLTMH yang dimaksud ternyata masuk jaringan tegangan rendah dengan BPP tegangan rendah provinsi Jawa Barat yang sebesar Rp 720/kWh. Mengenai BPP regional, itu ditetapkan oleh Menteri.
 
Mengenai alasannya, mungkin dibuat dengan asumsi bahwa jaringan yang ada adalah jaringan yang terinterkoneksi. Implikasinya di titik mana pun energi listrik masuk ke jaringan, maka akan mempunyai kemungkinan untuk mengalir ke bagian mana pun dalam sistem interkoneksi tersebut dengan dibatasi oleh kemampuan jaringan. Artinya, karena ada kemungkinan bahwa energi yang dihasilkan akan dialirkan melalui saluran transmisi ke daerah lain, maka arti tegangan menjadi penting disini. Seperti yang kita ketahui rugi2 listrik berbanding terbalik dengan tegangan, atau semakin tinggi tegangan maka rugi2 akan lebih kecil untuk sejumlah energi yang sama yang disalurkan.
 
Ada pun argumen bahwa pembangkit listrik yang dekat dengan beban bisa dihargai lebih mahal sesuai hukum pasar, memang benar untuk pasar listrik yang sudah dideregulasi (seperti yang dimaui oleh UU No 20/2002 yang batal). Namun sayangnya, pasar listrik kita memang masih regulated, jadi mau tidak mau, harga jual/beli listrik masih harus mengikuti regulasi.   Mengenai subsidi energi, dalam RAPBN-P (bulan Februari 2008 ) direncanakan,        

 http://siteresources.worldbank.org/INTINDONESIA/Resources/Country-Update/ecsos.update.apr2008.pdf
http://www.anggaran.depkeu.go.id/Content/08-02-26,%2005%20Bab%20III.pdf        

  

==========            APBN      %thd PDB    RAPBN-P    % thd PDB   % thd APBN          
Subsidi Energi           75.59               1,8           161.19             3,8                213,2
1) Subsidi BBM          45.80               1,1           106.19             2,5                231,8
2) Subsidi Listrik      29.78               0,7            54.99             1,3                184,7      

  

Logikanya, daripada uang negara keluar untuk membiayai subsidi, memang lebih baik dipakai untuk membeli sumber listrik terbarukan dengan harga yang menarik. Tujuannya untuk merangsang pertumbuhan penyedia energi listrik terbarukan. Cuma mungkin pemerintah (yang membuat aturan harga jual listrik adalah pemerintah) belum berpikir sejauh itu, karena masih direpotkan dengan banyak hal, seperti gonjang-ganjing keputusan menaikkan harga BBM.Sebelumnya penulis menyatakan sedikit disclaimer, meski penulis berusaha mendapatkan sumber yang valid, kebenaran informasi yang ditulis tidak bisa dijamin 🙂 Penulis juga mohon maaf karena mengutip berita tahun kemarin, untuk asumsi2 yang digunakan:          

  

Sedang Dirjen Listrik dan Pemanfaatan Energi J Purwono mengungkapkan subsidi listrik untuk tahun 2008 diusulkan menjadi Rp 42,6 triliun atau mengalami kenaikan Rp16,8 triliun dibandingkan APBN 2007 sebesar Rp25,8 triliun. Subsidi sebesar itu merupakan skenario maksimal dengan asumsi PT PLN mendapat marjin 5%. ”Sementara, kalau PLN tidak mendapat marjin maka subsidinya menjadi Rp36,93 triliun,” ujar J Purwono.       

Asumsi untuk menghitung skenario maksimal adalah konsumsi BBM 9,556 juta kiloliter, biaya pokok penyediaan (BPP) listrik Rp930,17 per kWh, pertumbuhan penjualan listrik 6,8 persen, susut jaringan 10,14 persen, harga minyak $US 60/ barel, dan nilai tukar Rp9.400.       

Sedangkan, apabila memakai skenario minimal maka dengan marjin PLN lima persen, maka kebutuhan subsidi menjadi Rp38,21 triliun dan Rp32,73 triliun untuk marjin nol persen. Asumsi yang dipakai buat skenario minimal ini adalah konsumsi BBM 9,556 juta kiloliter, BPP listrik Rp896,1 per kWh, pertumbuhan penjualan listrik 6,8 persen, susut jaringan 10,14 persen, harga minyak $US 57/ barel, dan nilai tukar Rp9.400.            

Kalau yang ini dari laporan tahunan PLN:       

  

        

Jadi perhitungan kasarnya, katakan lah dengan asumsi pertumbuhan produksi listrik 6-7% dari tahun 2006, maka produksi listrik kira2 menjadi 150 TWh di tahun 2008. Harga jual ke konsumen bervariasi, katakan lah ambil yang Rp 500/kWh, sedang untuk BPP berkisar Rp 704-936/kWH di awal tahun 2008 (penulis memperkirakan BPP real saat ini mungkin sudah kembali menembus ke angka di atas Rp 1000/kWh, karena harga minyak), misal ambil yang Rp 800/kWh, maka selisih harga jual dan harga produksi adalah Rp 300/kWh.   

  

Jadi subsidi yang dibutuhkan sekitar Rp 300/kWh x 150 TWh = Rp 45 triliun. Kalau ditambah susut jaringan, mungkin kira2 subsidi yang dibutuhkan sekitar Rp 50 triliun. Jadi usulan pemerintah untuk subsidi listrik dalam RAPBN yang Rp 42.6 triliun sebenarnya sudah sangat minim. Berita terakhir yang saya tahu saat pembahasan RAPBN-P, DPR menyetujui subsidi listrik sebesar Rp 61 triliun atau dalam data pokok APBN-P 2008 disebut sejumlah Rp 60.2916 triliun. UU No 16/2008 tentang perubahan APBN tahun anggaran 2008 menjelaskan banyak hal tentang kondisi yang dihadapi Indonesia. Sementara itu jumlah subsidi listrik yang ditetapkan menurut penulis masih terlalu optimis dengan perkembangan harga minyak sekarang. Dengan perbedaan harga jual dan harga produksi sekitar Rp 500/kWh (dengan BPP Rp 1000/kWh), maka subsidi yang dibutuhkan sebenarnya sekitar Rp 500/kWh x 150 TWh = Rp 75 triliun.
  
Kenapa BPP aktual saat ini diperkirakan sudah bergerak naik ? Karena pembangkit listrik BBM, yang harga BBM-nya sampai 2 x dari asumsi semula, masih besar porsinya dalam hal penyediaan listrik. Bappenas memperkirakan konsumsi listrik dari jenis pembangkit listrik BBM masih sekitar 25% tahun 2008 ini. Sedikit kalkulasi kasar, 0.75 x Rp 800/kWh + 0.25 x Rp 1600/kWh = Rp 1000/kWh. Seperti yang kita tahu Rp/kWh pembangkit BBM ini sangat mahal. Sebagai contoh, jika harga minyak diesel dihargai Rp 10000/liter (PLN membeli BBM dengan harga pasar, walaupun dibayarnya menunggu subsidi cair, makanya dulu sempat bersitegang dengan Pertamina), maka biaya operasi PLTG minyak, yang biasa dioperasikan PLN pada saat beban puncak jam 17.00-22.00 bisa mencapai Rp 3500/kWh, hanya dari biaya bahan bakar saja.  
  
Itu sebabnya kenapa sebaiknya kita harus hemat energi, terutama di petang hari, mencegah jangan sampai PLN terpaksa mengoperasikan mesin2 mahalnya. Ini juga menjadi sebab, kenapa proyek 10000 MW, pengembangan panas bumi, diversifikasi energi primer yang lain seperti PLTMH digalakkan dan dipercepat. Cuma problemnya mungkin untuk sebagian investor, insentif yang diberikan, misal dalam hal pentarifan dan kepastiannya masih kurang menarik.  
  
Mengenai subsidi diberikan ke golongan yang mana, semua golongan, baik rumah tangga maupun industri masih menerima subsidi. Subsidi untuk rumah tangga s/d 450VA lah yang terbesar. Kalau kita melihat grafik diatas, maka luas bidang ungu untuk R1 lah yang terbesar. Golongan yang paling kecil subsidinya adalah rumah tangga R3, lebih kecil dari subsidi yang diberikan untuk industri dan bisnis. Nilai jual listrik dengan tarif keekonomian itu sendiri sebenarnya biaya produksi rata-rata ditambah margin keuntungan yang ditetapkan pemerintah (kadang 5%, kadang 0% kalau tidak ingin bilang dipaksa rugi), sesuai prinsip regulated market.

 

Mengejar Matahari.. di Luar Angkasa, Listrik Masa Depan

Tetes air mata…
Mengalir di sela derai tawa
Selamanya kita…
Tak akan berhenti mengejar Matahari

Ari Lasso

Ya, kenapa tidak? Matahari adalah sumber energi terbarukan, setidaknya sampai 4-5 milyar tahun lagi baru akan habis energinya. Ide ini bukan ide baru. Sejak tahun 1970-an orang-orang sudah mulai berpikir mencari energi alternatif, seiring dengan membumbung harga minyak pada saat itu. Dan hasilnya sudah kita lihat saat ini, solar farm sudah mulai banyak ditemui di banyak negara maju. Namun PLTS (pembangkit listrik tenaga surya) ini masih punya banyak kelemahan. Tentu saja, karena letaknya menetap di suatu tempat (terrestrial), solar farm ini tidak menghasilkan listrik ketika malam hari. Pada siang hari pun, jika cuaca tidak cerah, mendung menghalangi sinar mataharinya atau mengurangi efisiensi.

space solar

Para ahli mulai berpikir lebih jauh. Kenapa kita tidak menangkap energi matahari langsung di luar angkasa, dimana kita tidak diganggu oleh cuaca. Tentu saja kita akan bertanya-tanya, kalau pun energi matahari bisa ditangkap oleh solar cell, bagaimana cara mengirimkan energi tersebut ke bumi? Kemajuan teknologi ternyata mampu menjawab hal-hal yang sebelumnya tidak terbayangkan, dan dianggap sebagai fiksi belaka. Namun jangan salah, teknologi-teknologi yang ditunjukkan film-film sci-fi seperti Star Wars dan Battlestar Galactica (akan premier season 4-nya di Sci-fi 4 April 2008), banyak yang menjadi kenyataan dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama.

Space Solar Power (SSP) adalah jawabannya. Sebuah solar farm dibangun di luar angkasa, di orbit bumi, menangkap energi matahari. Cara mengirim energi ini ke bumi adalah dengan mengubahnya menjadi gelombang mikro (microwave). Transmisi energi listrik nir kabel (wireless power transmission) ini bukan fiksi, namun sudah menjadi kenyataan, bahkan sejak tahun 1974. Singkat cerita, di bumi ada stasiun yang menangkap microwave ini dan mengubahnya kembali menjadi energi listrik dan ditransmisikan ke pelanggan melalui jaringan transmisi konvensional.

Tentu saja ada banyak perdebatan dengan teknologi ini, mulai dari isu lingkungan, keamanan sampai ekonomi. Isu lingkungan berasal dari teknik konstruksi stasiun angkasa yang akan membutuhkan banyak perjalanan ulang alik space shuttle. Padahal tiap kali pesawat ini beroperasi, dia akan banyak mengeluarkan gas buang yang mencemari udara. Hal ini bisa diatasi kalau kita bisa memproduksi bahan baku solar farm ini di bulan! (Sebuah ide gila, but who knows it will be happened in the near future).

Lalu, masalah kesehatan, apakah gelombang mikro ini berbahaya. Para ahli menjawab, sejauh ini tidak berbahaya. Gelombang mikro tidak cukup kuat untuk membakar benda yang dilewatinya atau merubah sel sehat menjadi kanker pada manusia. Contoh sederhana adalah penggunaan telpon seluler (meski banyak yang memperdebatkannya juga). Dan yang paling kritis adalah pertimbangan ekonomis. Para ahli menjawab, lebih baik membangun SSP sebesar US$ 10 milyar dari pada harus mengeluarkan US $ 7 milyar per bulan untuk mendapatkan sumber energi fosil pada perang di Irak.

Sumber:
http://www.nss.org/settlement/ssp/index.htm

Awan Tag

Nulis Apaan Aja Deh

all about electricity (indonesia)