all about electricity (indonesia)

Posts tagged ‘solar’

Komplemen untuk Tulisan Dahlan Iskan: Dampak Pembangkit…

Akhir-akhir ini semakin banyak yang mengulas kelistrikan nasional. Tidak terkecuali pak Dahlan Iskan, yang juga menaruh perhatian pada masalah ini. Terlepas dari pro-kontra pencalonan beliau sebagai calon nahkoda PLN, saya hendak menambahkan dan meluruskan tulisan beliau di Jawa Pos 17  dan 18 November 2009.  Dalam tulisan tsb. disebut-sebut PLTG (Pembangkit Listrik Tenaga Gas), yang kemudian disebut sebagai PLTS (PLT Solar) karena menggunakan solar sebagai bahan bakar.

Apa yang hendak diluruskan dari tulisan tsb. ?

Yang dimaksud dengan “Tenaga Gas” adalah tenaga dari gas hasil pembakaran, jadi bukan gas sebagai bahan bakarnya. Sebuah PLTG umumnya berbahan bakar gas alam (Natural Gas) atau minyak solar (High Speed Diesel Oil). Di beberapa PLTG bahan bakarnya bisa juga berupa condensat gas alam yang harganya rata-rata 20% lebih murah dari HSD oil. Yang lebih ekstrim ada juga yang diberi bahan bakar minyak berat (Marine Fuel Oil). Jadi, apa pun bahan bakarnya, sebuah PLTG tetap lah PLTG, pembangkit listrik tenaga gas.

Yang mungkin juga menggelitik adalah kenapa di sebuah Sistem Tenaga Listrik (STL) dibutuhkan PLTG ?

Jawabannya, karena PLTG terutama yang berbahan-bakar minyak HSD adalah juru selamat yang dibutuhkan ketika terjadi kondisi-kondisi darurat. Sebuah PLTG dalam hitungan menit biasanya dapat langsung menghasilkan listrik ketika terjadi kondisi ekstrim di sistem dimana dibutuhkan suplai listrik dengan segera(misal ada pembangkit listrik yang trip / mendadak mati). Yang dapat mengalahkan kecepatan PLTG cuma PLTA (air). Namun PLTA biasanya sangat terbatas / kecil kapasitasnya untuk membantu sistem. Jadi PLTG minyak biasa digunakan sebagai cadangan dingin atau bisa juga sebagai peak shaver atau peaker atau buffer power plant.

Mungkin juga ada pertanyaan, kenapa juru selamatnya bukan PLTGU (PLT Gas dan Uap) yang lebih efisien tara kalornya (efisiensi thermal dan heat rate) atau PLTG dengan bahan bakar gas atau PLTU berbahan bakar batubara?

Untuk PLTGU, di sistem Jawa Bali, jumlahnya cukup banyak. Gas buang dari hasil pembakaran turbin gas dimanfaatkan untuk memanaskan air dalam ketel atau HRSG (heat recovery steam generator). Uap ini yang dipakai untuk memutar turbin uap dan generatornya dan menghasilkan listrik. PLTGU sering disebut sebagai pembangkit dengan siklus kombinasi (combine cycle), sedang PLTG disebut sebagai pembangkit siklus terbuka (open atau single cycle). Jadi ketika sebuah PLTGU dimanfaatkan siklus terbukanya saja untuk segera memenuhi kebutuhan sistem, maka yang beroperasi sebenarnya adalah PLTG. Sedangkan siklus kombinasinya (turbin uap) membutuhkan waktu dalam hitungan jam untuk menghasilkan listrik.

Untuk PLTG berbahan bakar gas, biasanya sudah dijalankan kontinyu, karena kebanyakan kontrak gas ke pembangkit basisnya adalah “Take or Pay” (TOP) sehingga sangat sulit mengharapkan fluktuasi yang besar atau start-stop dari PLTG gas. Pengecualian, seperti yang juga ditulis di JP, jika PLTG gas memiliki fasilitas penyimpanan gas bertekanan (compressed) atau gas cair (liquid), maka dimungkinkan PLTG gas mungkin cukup ekonomis untuk di start-stop. Namun kembali, fasilitas tsb., biasanya tidak murah dan harga gas cair biasanya juga lebih mahal dari gas alam yang disalurkan dalam pipa.

Untuk PLTU batubara jawabannya jelas, perlu waktu berjam-jam untuk men-start sebuah PLTU batubara, atau bahkan untuk sekedar load up – load down, operator PLTU harus mempertimbangkan banyak hal agar pembangkitnya tetap dapat beroperasi dengan aman.

Jadi, apa kesimpulannya ?

Untuk sebuah keandalan, memang diperlukan biaya lebih yang harus dibayar. Ini yang saya maksud dengan “trade-off” antara keandalan (reliability) vs efisien (ekonomis). Apakah ada pilihan lain ? Bisa saja, operator sistem membiarkan kekurangan suplai dan menjaga kestabilan sistem dengan melepas sebagian beban di konsumen (load shedding) atau pemadaman parsial. Jika langkah ini dilakukan, biasanya akan timbul isu yang lebih besar lagi, kenapa sistem dibiarkan defisit padahal masih ada resources tersedia.

Mengejar Matahari.. di Luar Angkasa, Listrik Masa Depan

Tetes air mata…
Mengalir di sela derai tawa
Selamanya kita…
Tak akan berhenti mengejar Matahari

Ari Lasso

Ya, kenapa tidak? Matahari adalah sumber energi terbarukan, setidaknya sampai 4-5 milyar tahun lagi baru akan habis energinya. Ide ini bukan ide baru. Sejak tahun 1970-an orang-orang sudah mulai berpikir mencari energi alternatif, seiring dengan membumbung harga minyak pada saat itu. Dan hasilnya sudah kita lihat saat ini, solar farm sudah mulai banyak ditemui di banyak negara maju. Namun PLTS (pembangkit listrik tenaga surya) ini masih punya banyak kelemahan. Tentu saja, karena letaknya menetap di suatu tempat (terrestrial), solar farm ini tidak menghasilkan listrik ketika malam hari. Pada siang hari pun, jika cuaca tidak cerah, mendung menghalangi sinar mataharinya atau mengurangi efisiensi.

space solar

Para ahli mulai berpikir lebih jauh. Kenapa kita tidak menangkap energi matahari langsung di luar angkasa, dimana kita tidak diganggu oleh cuaca. Tentu saja kita akan bertanya-tanya, kalau pun energi matahari bisa ditangkap oleh solar cell, bagaimana cara mengirimkan energi tersebut ke bumi? Kemajuan teknologi ternyata mampu menjawab hal-hal yang sebelumnya tidak terbayangkan, dan dianggap sebagai fiksi belaka. Namun jangan salah, teknologi-teknologi yang ditunjukkan film-film sci-fi seperti Star Wars dan Battlestar Galactica (akan premier season 4-nya di Sci-fi 4 April 2008), banyak yang menjadi kenyataan dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama.

Space Solar Power (SSP) adalah jawabannya. Sebuah solar farm dibangun di luar angkasa, di orbit bumi, menangkap energi matahari. Cara mengirim energi ini ke bumi adalah dengan mengubahnya menjadi gelombang mikro (microwave). Transmisi energi listrik nir kabel (wireless power transmission) ini bukan fiksi, namun sudah menjadi kenyataan, bahkan sejak tahun 1974. Singkat cerita, di bumi ada stasiun yang menangkap microwave ini dan mengubahnya kembali menjadi energi listrik dan ditransmisikan ke pelanggan melalui jaringan transmisi konvensional.

Tentu saja ada banyak perdebatan dengan teknologi ini, mulai dari isu lingkungan, keamanan sampai ekonomi. Isu lingkungan berasal dari teknik konstruksi stasiun angkasa yang akan membutuhkan banyak perjalanan ulang alik space shuttle. Padahal tiap kali pesawat ini beroperasi, dia akan banyak mengeluarkan gas buang yang mencemari udara. Hal ini bisa diatasi kalau kita bisa memproduksi bahan baku solar farm ini di bulan! (Sebuah ide gila, but who knows it will be happened in the near future).

Lalu, masalah kesehatan, apakah gelombang mikro ini berbahaya. Para ahli menjawab, sejauh ini tidak berbahaya. Gelombang mikro tidak cukup kuat untuk membakar benda yang dilewatinya atau merubah sel sehat menjadi kanker pada manusia. Contoh sederhana adalah penggunaan telpon seluler (meski banyak yang memperdebatkannya juga). Dan yang paling kritis adalah pertimbangan ekonomis. Para ahli menjawab, lebih baik membangun SSP sebesar US$ 10 milyar dari pada harus mengeluarkan US $ 7 milyar per bulan untuk mendapatkan sumber energi fosil pada perang di Irak.

Sumber:
http://www.nss.org/settlement/ssp/index.htm

Awan Tag

Nulis Apaan Aja Deh

all about electricity (indonesia)