all about electricity (indonesia)

Posts tagged ‘energi’

Perencanaan Sistem Tenaga Listrik Jangka Panjang dengan Kriteria Andal dan Ekonomis (Bagian I)

Pemenuhan kebutuhan listrik periode 2014-2019 sebesar 35 GW telah menjadi salah satu prioritas program Pemerintah. Melalui Kementerian ESDM, Pemerintah membentuk Unit Pelaksanaan Program Pembangunan Ketenagalistrikan (UP3KN), yang diumumkan dalam acara Forum Pemimpin Ketenagalistrikan 13 Januari 2015 yang lalu. Organ ini diharapkan dapat memecah kebuntuan yang dihadapi dalam pengembangan sistem ketenagalistrikan di tanah air. Jika kita melihat rumusan langkah-langkah percepatan pembangunan ketenagalistrikan di forum tersebut maka kita akan melihat bahwa problem pembangunan ketenagalistrikan yang dihadapi saat ini lebih banyak berkutat pada problem-problem non teknis seperti lahan, sosial, legal, lingkungan, birokrasi sektoral, koordinasi antar instansi.

Namun demikian, sistem ketenagalistrikan harus betul-betul direncanakan dengan baik juga secara teknis. Salah satu dokumen yang sering dibaca oleh investor untuk memberi gambaran teknis apa rencana Pemerintah dalam bidang ketenagalistrikan adalah dokumen Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT PLN. Edisi terbaru 2105-2024 telah terbit, dapat diunduh disini.

RUPTL 2015-2024 cover

Untuk menyusun RUPTL ini, masukan dari kondisi empiris di lapangan dan penggunaan software-software komersial power system expansion planning dibutuhkan. Kemajuan riset dan pengembangan di bidang ini juga terus harus diikuti agar rencana ini menghasilkan sistem yang andal dan ekonomis. Riset teknik perencanaan sistem tenaga listrik sendiri sekarang semakin maju walaupun tantangannya juga semakin kompleks. Kita akan mendapatkan masalah jika tidak mengikuti perkembangan teknik-teknik analisis dalam perencanaan sistem ketenagalistrikan (STL). Saat ini kurang memadai lagi jika kita hanya mengandalkan teknik analisis aliran daya, ekonometrika, teknik least square regression, teknik kriteria keandalan secara deterministik untuk meramalkan dan merencanakan pengembangan STL.

Ekonomi dunia (yang diikuti oleh kebutuhan listrik) berkembang dalam arah yang tidak terbayangkan pada dekade-dekade yang lalu. Jadi saat ini STL telah berkembang (untuk Indonesia terutama pada sistem STL Jawa Bali) menjadi problem berskala besar, jangka panjang, non-linear, diskrit dalam hal investasi pembangkit listrik. Ini sebabnya riset-riset terkini di bidang ketenagalistrikan banyak yang melibatkan statistik probabilistik, metode optimasi stokastik, uncertainty / ketidakpastian, simulasi Monte Carlo, game theory (genetic algorithm) (untuk pasar ketenagalistrikan berbasis pasar / deregulated electricity market), metode dekomposisi matriks (untuk mengatasi waktu komputasi akibat masifnya data). Untuk kasus di Indonesia, least cost planning masih dipakai karena Indonesia menganut vertically integrated electricity market atau pasar listrik konvensional, dengan varian investor independen untuk pembangkitan listrik (IPP) bisa masuk.

Data historis masa lalu tidak menjamin kita akan memperoleh data dengan kecenderungan serupa di masa depan. Kejadian yang tidak terduga yang belum pernah terjadi sebelumnya atau fenomena Black Swan misalnya, jatuhnya harga minyak dunia akibat melimpahnya produksi shale gas di Amerika adalah salah satu contohnya. Para ahli pada beberapa waktu dekade yang lalu tidak pernah membayangkan harga minyak bisa jatuh, mengingat saat itu pada umumnya para ahli mengatakan cadangan minyak dunia semakin sedikit dan investasi eksplorasi dan eksploitasinya semakin mahal.

Macrotrends.org_Crude_Oil_Price_History_Chart

Posisi harga minyak mentah WTI (West Texas Intermediateper Januari 2015 jatuh di bawah US $ 50/ barrel

Editor majalah-majalah energi sering menyebut fenomena ini sebagai “a game changer” (variabel yang mengubah aturan main bisnis energi yang terjadi sebelumnya). Distributed generation di luar Jawa yang banyak mengandalkan PLTD-PLTD berbahan bakar minyak (BBM) boleh jadi di satu titik akan kembali menjadi ekonomis dan kompetitif. Ini merupakan suatu hal yang mungkin tidak terbayangkan dalam rencana-rencana tahun-tahun yang lalu.

Referensi teknis yang cukup bagus menjelaskan teknik perencanaan sistem tenaga listrik berbasis keandalan dan ekonomi adalah disertasi PhD ini:

Gu, Yang, “Long-term power system capacity expansion planning considering reliability and economic criteria” (2011). Graduate Theses and Dissertations. Paper 10163.

Namun tetap harus diingat, meskipun secara teknis kita bisa merencanakan dengan bagus, problem non-teknis di Indonesia bisa menyebabkan eksekusi menjadi terhambat, yang menjadi semangat pembentukan UP3KN.

Ketahanan Energi Indonesia

apo pakistan

Tidak seperti biasanya, setelah Lebaran kemarin, kali ini saya diberi Ayah saya yang mantan aktivis mahasiswa, sebuah buku. Uniknya, buku ini terkait langsung dengan apa yang saya kerjakan saat ini, dan kebetulan saya pernah bertemu langsung dengan pengarangnya. Langsung saja ya… Saya akan sedikit mengulas buku tersebut, yang berjudul, “Energi Selamatkan Negeri”, karya Dr. Herman Darnel Ibrahim. Saya mengenal beliau ketika beliau masih menjabat sebagai Direktur SDM PT Indonesia Power. Beliau sendiri lebih dikenal sebagai anggota Dewan Energi Nasional dan pernah menjadi Direktur Transmisi dan Distribusi PT PLN (Persero).

Beliau menuangkan pemikiran, perhatian, concern mengenai energi di Indonesia dalam buku ini. Pendapat beliau dalam buku ini dipuji Teguh Esha (penulis Ali Topan) sebagai cerminan intelektual, sekaligus Patriot yang berjuang demi NKRI. Teguh Esha sendiri dalam buku ini berperan melakukan “sedikit” Alih Bahasa agar buku ini tidak terlalu “berat” dengan membahasakannya ke bahasa yang populer.

buku energi selamatkan negeri

Dua bab pertama buku ini lebih banyak membicarakan terminologi dan data historis energi di Indonesia. Di bab berikutnya Dr. DHI membicarakan mengenai apa sebetulnya problem energi di negeri ini. Solusi menjadi hal utama yang beliau teriakkan. Walau demikian beliau sepenuhnya sadar, seperti yang kita ketahui bersama, isu-isu ini kerap digoreng politisi untuk mendapatkan simpati publik (kebijakan-kebijakan populis seperti mensubsidi BBM). “Subsidi orangnya, bukan komoditasnya”, menurut beliau untuk BBM.

Ketahanan (security) energi di masa depan menjadi perhatian utama. Beliau menekankan perubahan pola pikir bahwa Indonesia kaya akan sumber daya energi perlu dikoreksi. Di banding negara-negara lain di dunia, cadangan migas dan batubara terhitung kecil, sehingga beliau menegaskan, “Stop ekspor gas dan batubara !”, dalam rangka memperoleh competitive advantage.

indonesia tidak kaya energi

Dari sisi konten, buku ini memberikan argumentasi yang “mencerahkan” dan terhitung komprehensif isinya, walaupun jika membicarakan topik “energi” tentu tidak lepas dari dunia migas (oil & gas). Di buku ini tidak terlalu banyak detail di dunia migas yang disinggung. Hal ini wajar mengingat latar belakang beliau lebih banyak bergelut di dunia kelistrikan. Lay-out buku bisa lebih baik lagi, untuk menghindari kesan padat dan berat. Secara keseluruhan, buku ini sangat membantu anda yang ingin memahami persoalan “Energi” di Indonesia dan solusi-solusinya dalam satu malam 🙂

 

Penggunaan Flywheel Energy Storage System sebagai Strategi Kontrol untuk Beban yang Sangat Fluktuatif pada Jala-jala Terisolasi

Judul tulisan saya ini mungkin mengingatkan teman2 sekalian dengan model judul2 sebangsa paper, skripsi, thesis dkk. Tidak perlu mengerutkan kening dulu, disini saya tulis ulang paper saya dalam bahasa “manusia“, bahasa yang lebih dimengerti oleh kita2 hehe..

Kenapa Ada Sistem Tenaga Listrik yang Terisolasi..

Di dunia ini, banyak daerah pedalaman atau sebuah pulau terpencil, yang tidak terhubung dengan grid/STL yang besar. Alasan utama kenapa tidak dikonek biasanya karena pertimbangan ekonomis. Bayangkan saja misalnya, berapa biaya yang dibutuhkan untuk menggelar kabel laut dari pulau Karimun Jawa, jika ingin kita hubungkan dengan Tanjung Jati/Jepara di pulau Jawa. Contoh lain adalah STL terisolasi di daerah pertambangan seperti di Freeport, Papua. Di daerah tambang seperti itu, bebannya cukup tinggi, namun dipasok dari pembangkit listrik lokal yang ada disitu, tidak dipasok dari grid.

Permasalahan di Isolated Grid..

STL di jala2 terisolasi biasanya menggunakan pembangkit listrik dengan biaya operasi mahal, seperti mesin diesel dan turbin gas. Untuk mengurangi operational cost, biasanya orang berpikir menggunakan pembangkit listrik dari sumber energi terbarukan (renewable energy sources/RES). Sayangnya RES ini bukan tanpa persoalan. Energi listrik dari sumber energi terbarukan menyimpan masalah2 yang sering tidak diketahui oleh orang awam.

Permasalahan pertama adalah ketidakstabilan energi listrik yang dihasilkan dari RES. Contoh yang paling jelas adalah turbin angin. Permasalahan kedua, baik pembangkit dari sumber konvensional maupun RES, kadang tidak mampu mengikuti fluktuasi beban yang sangat dinamis, jika hal ini terjadi di sistem yang terisolasi. Rule of thumb bagi RES adalah pembangkit RES konsentrasinya tidak boleh terlalu besar karena akan mengganggu  kestabilan sistem. Australia bahkan cuma memproyeksikan pembangkit dengan RES maksimal di angka 20% saja. PSS (Power System Stabilizer) biasanya juga tidak ada di sistem kecil yang terisolasi.

Contoh Kasus: STL di sebuah Tambang Batubara

Pada ilustrasi di atas, sistem ini tidak membutuhkan Flywheel Energy Storage System (FESS) jika tidak ada beban berupa Dragline. Dragline adalah alat berat yang biasa dipakai di surface mining. Jika Dragline dioperasikan, maka frekuensi akan sangat goncang jika tidak distabilkan oleh FESS. Aplikasi flywheel ini sendiri sebenarnya juga sudah lama dikenal di generator2 hidro. Perbedaannya, FESS sekarang banyak dikombinasikan dengan peralatan elektronika daya seperti inverter, capacitor berikut controller2-nya.

Sistem ini dimodelkan dengan VisSim menjadi sbb:

 

Hasil Simulasinya..

Dari hasil simulasi ini terlihat bahwa FESS melepas energi ketika beban (Dragline) menyerap energi secara drastis. FESS menyerap energi ketika Dragline tidak terlalu berbeban. Mungkin ada pertanyaan, apa keunggulan FESS dalam kasus ini dibanding pengaturan frekuensi secara konvensional. FESS punya kelebihan dalam hal kecepatannya dalam menyerap dan melepas energi. Mekanisme penyimpanan energi sebenarnya ada beberapa metode (capacitor, batere, PLTA Pompa, dll) dengan kelebihan dan kekurangannya. FESS dalam hal ini diyakini akan mampu meningkatkan penetrasi pembangkit dengan RES sampai dengan 33%.

Harga Beli Listrik dari Energi Alternatif dan Subsidi Listrik 2008

Artikel ini bermula dari sebuah topik di milis IndoEnergy yang membahas harga beli PLN untuk energi alternatif dan keingintahuan masyarakat bagaimana subsidi listrik dihitung. Pada intinya ada sebagian anggota milis yang mempertanyakan hal2 yang dianggap kontradiktif dalam pengembangan energi terbarukan, seperti dasar hukum pemberian harga beli energi listrik dari suatu PLTMH di Jawa Barat yang hanya Rp 432/kWh. Sedikit berbagi dasar hukum aturan main ketenagalistrikan di Indonesia,       

http://www.djpp.depkumham.go.id/inc/buka.php?d=1900+85&f=uu15-1985bt.htm
http://www.esdm.go.id/prokum/pp/2006/pp_26_2006.pdf
http://www.esdm.go.id/prokum/permen/2007/permen-esdm-04-2007.pdf
http://www.esdm.go.id/prokum/permen/2006/permen-esdm-02-2006.pdf       

Intinya, menurut hirarki peraturan di Indonesia, dengan dibatalkannya UU No 20/2002, maka UU No 15/1985 masih menjadi dasar bagi semua aturan di bawahnya. Harga jual listrik dari masyarakat ke PKUK (PLN) adalah sesuai dengan Permen ESDM 02/2006, termasuk mengenai aturan harga jualnya adalah 0.8 x BPP jika masuk ke tegangan menengah dan 0.6 x BPP provinsi jika masuk ke tegangan rendah. Dalam hal ini PLTMH yang dimaksud ternyata masuk jaringan tegangan rendah dengan BPP tegangan rendah provinsi Jawa Barat yang sebesar Rp 720/kWh. Mengenai BPP regional, itu ditetapkan oleh Menteri.
 
Mengenai alasannya, mungkin dibuat dengan asumsi bahwa jaringan yang ada adalah jaringan yang terinterkoneksi. Implikasinya di titik mana pun energi listrik masuk ke jaringan, maka akan mempunyai kemungkinan untuk mengalir ke bagian mana pun dalam sistem interkoneksi tersebut dengan dibatasi oleh kemampuan jaringan. Artinya, karena ada kemungkinan bahwa energi yang dihasilkan akan dialirkan melalui saluran transmisi ke daerah lain, maka arti tegangan menjadi penting disini. Seperti yang kita ketahui rugi2 listrik berbanding terbalik dengan tegangan, atau semakin tinggi tegangan maka rugi2 akan lebih kecil untuk sejumlah energi yang sama yang disalurkan.
 
Ada pun argumen bahwa pembangkit listrik yang dekat dengan beban bisa dihargai lebih mahal sesuai hukum pasar, memang benar untuk pasar listrik yang sudah dideregulasi (seperti yang dimaui oleh UU No 20/2002 yang batal). Namun sayangnya, pasar listrik kita memang masih regulated, jadi mau tidak mau, harga jual/beli listrik masih harus mengikuti regulasi.   Mengenai subsidi energi, dalam RAPBN-P (bulan Februari 2008 ) direncanakan,        

 http://siteresources.worldbank.org/INTINDONESIA/Resources/Country-Update/ecsos.update.apr2008.pdf
http://www.anggaran.depkeu.go.id/Content/08-02-26,%2005%20Bab%20III.pdf        

  

==========            APBN      %thd PDB    RAPBN-P    % thd PDB   % thd APBN          
Subsidi Energi           75.59               1,8           161.19             3,8                213,2
1) Subsidi BBM          45.80               1,1           106.19             2,5                231,8
2) Subsidi Listrik      29.78               0,7            54.99             1,3                184,7      

  

Logikanya, daripada uang negara keluar untuk membiayai subsidi, memang lebih baik dipakai untuk membeli sumber listrik terbarukan dengan harga yang menarik. Tujuannya untuk merangsang pertumbuhan penyedia energi listrik terbarukan. Cuma mungkin pemerintah (yang membuat aturan harga jual listrik adalah pemerintah) belum berpikir sejauh itu, karena masih direpotkan dengan banyak hal, seperti gonjang-ganjing keputusan menaikkan harga BBM.Sebelumnya penulis menyatakan sedikit disclaimer, meski penulis berusaha mendapatkan sumber yang valid, kebenaran informasi yang ditulis tidak bisa dijamin 🙂 Penulis juga mohon maaf karena mengutip berita tahun kemarin, untuk asumsi2 yang digunakan:          

  

Sedang Dirjen Listrik dan Pemanfaatan Energi J Purwono mengungkapkan subsidi listrik untuk tahun 2008 diusulkan menjadi Rp 42,6 triliun atau mengalami kenaikan Rp16,8 triliun dibandingkan APBN 2007 sebesar Rp25,8 triliun. Subsidi sebesar itu merupakan skenario maksimal dengan asumsi PT PLN mendapat marjin 5%. ”Sementara, kalau PLN tidak mendapat marjin maka subsidinya menjadi Rp36,93 triliun,” ujar J Purwono.       

Asumsi untuk menghitung skenario maksimal adalah konsumsi BBM 9,556 juta kiloliter, biaya pokok penyediaan (BPP) listrik Rp930,17 per kWh, pertumbuhan penjualan listrik 6,8 persen, susut jaringan 10,14 persen, harga minyak $US 60/ barel, dan nilai tukar Rp9.400.       

Sedangkan, apabila memakai skenario minimal maka dengan marjin PLN lima persen, maka kebutuhan subsidi menjadi Rp38,21 triliun dan Rp32,73 triliun untuk marjin nol persen. Asumsi yang dipakai buat skenario minimal ini adalah konsumsi BBM 9,556 juta kiloliter, BPP listrik Rp896,1 per kWh, pertumbuhan penjualan listrik 6,8 persen, susut jaringan 10,14 persen, harga minyak $US 57/ barel, dan nilai tukar Rp9.400.            

Kalau yang ini dari laporan tahunan PLN:       

  

        

Jadi perhitungan kasarnya, katakan lah dengan asumsi pertumbuhan produksi listrik 6-7% dari tahun 2006, maka produksi listrik kira2 menjadi 150 TWh di tahun 2008. Harga jual ke konsumen bervariasi, katakan lah ambil yang Rp 500/kWh, sedang untuk BPP berkisar Rp 704-936/kWH di awal tahun 2008 (penulis memperkirakan BPP real saat ini mungkin sudah kembali menembus ke angka di atas Rp 1000/kWh, karena harga minyak), misal ambil yang Rp 800/kWh, maka selisih harga jual dan harga produksi adalah Rp 300/kWh.   

  

Jadi subsidi yang dibutuhkan sekitar Rp 300/kWh x 150 TWh = Rp 45 triliun. Kalau ditambah susut jaringan, mungkin kira2 subsidi yang dibutuhkan sekitar Rp 50 triliun. Jadi usulan pemerintah untuk subsidi listrik dalam RAPBN yang Rp 42.6 triliun sebenarnya sudah sangat minim. Berita terakhir yang saya tahu saat pembahasan RAPBN-P, DPR menyetujui subsidi listrik sebesar Rp 61 triliun atau dalam data pokok APBN-P 2008 disebut sejumlah Rp 60.2916 triliun. UU No 16/2008 tentang perubahan APBN tahun anggaran 2008 menjelaskan banyak hal tentang kondisi yang dihadapi Indonesia. Sementara itu jumlah subsidi listrik yang ditetapkan menurut penulis masih terlalu optimis dengan perkembangan harga minyak sekarang. Dengan perbedaan harga jual dan harga produksi sekitar Rp 500/kWh (dengan BPP Rp 1000/kWh), maka subsidi yang dibutuhkan sebenarnya sekitar Rp 500/kWh x 150 TWh = Rp 75 triliun.
  
Kenapa BPP aktual saat ini diperkirakan sudah bergerak naik ? Karena pembangkit listrik BBM, yang harga BBM-nya sampai 2 x dari asumsi semula, masih besar porsinya dalam hal penyediaan listrik. Bappenas memperkirakan konsumsi listrik dari jenis pembangkit listrik BBM masih sekitar 25% tahun 2008 ini. Sedikit kalkulasi kasar, 0.75 x Rp 800/kWh + 0.25 x Rp 1600/kWh = Rp 1000/kWh. Seperti yang kita tahu Rp/kWh pembangkit BBM ini sangat mahal. Sebagai contoh, jika harga minyak diesel dihargai Rp 10000/liter (PLN membeli BBM dengan harga pasar, walaupun dibayarnya menunggu subsidi cair, makanya dulu sempat bersitegang dengan Pertamina), maka biaya operasi PLTG minyak, yang biasa dioperasikan PLN pada saat beban puncak jam 17.00-22.00 bisa mencapai Rp 3500/kWh, hanya dari biaya bahan bakar saja.  
  
Itu sebabnya kenapa sebaiknya kita harus hemat energi, terutama di petang hari, mencegah jangan sampai PLN terpaksa mengoperasikan mesin2 mahalnya. Ini juga menjadi sebab, kenapa proyek 10000 MW, pengembangan panas bumi, diversifikasi energi primer yang lain seperti PLTMH digalakkan dan dipercepat. Cuma problemnya mungkin untuk sebagian investor, insentif yang diberikan, misal dalam hal pentarifan dan kepastiannya masih kurang menarik.  
  
Mengenai subsidi diberikan ke golongan yang mana, semua golongan, baik rumah tangga maupun industri masih menerima subsidi. Subsidi untuk rumah tangga s/d 450VA lah yang terbesar. Kalau kita melihat grafik diatas, maka luas bidang ungu untuk R1 lah yang terbesar. Golongan yang paling kecil subsidinya adalah rumah tangga R3, lebih kecil dari subsidi yang diberikan untuk industri dan bisnis. Nilai jual listrik dengan tarif keekonomian itu sendiri sebenarnya biaya produksi rata-rata ditambah margin keuntungan yang ditetapkan pemerintah (kadang 5%, kadang 0% kalau tidak ingin bilang dipaksa rugi), sesuai prinsip regulated market.

 

Let’s Save Energy

Saudara2 sebangsa dan setanah air,

Mari tunjukkan sumbang sih kita bagi negeri kita tercinta dengan hal2 yang nyata, dimulai dari diri sendiri.

Tersebut lah slogan lama, tapi semakin sangat penting artinya bagi kelangsungan hidup bangsa ini,

“Mari Hemat Energi…”

Update laporan Bank Dunia April 2008:

Bidang penting lain yang semakin mencemaskan adalah APBN.. Dengan tidak berubahnya harga dalam negeri untuk harga bahan bakar bensin dan diesel untuk angkutan dan minyak tanah (yang mewakili lebih dari 2/3 bagian penjualan BBM), subsidi pemerintah tumbuh dengan pesat dan akan mencapai Rp 130 trilyun (US $14.3 milyar) pada tahun 2008 berdasarkan perkiraan Pemerintah sebesar US$95 per barrel.

Pada tingkat ini, subsidi enerji total (untuk tenaga listrik maupun untuk BBM) akan sama besar dengan total belanja modal dan sosial pemerintah pusat. Didorong oleh kenaikan subsidi, telah diusulkan langkah-langkah untuk memangkas belanja dalam departemen departemen teknis, mengurangi subsidi untuk listrik, dan meransum minyak tanah untuk memastikan bahwa hanya orang miskin yang menerimanya. Dengan langkah-langkah tersebut, Pemerintah mengharapkan defisit anggaran belanja naik dari 1,7 persen PDB menjadi sedikit di atas 2 persen PDB.

Bangsa2 lain melakukannya pada Earth Hour 31 Maret yg lalu (konon inspirasinya dari perayaan Nyepi di Bali) dalam rangka kesadaran akan kelangsungan hidup umat manusia.

Sydney Opera House (salah satu keajaiban dunia yang baru) pun rela memadamkan lampunya.

Bagaimana dengan diri kita sendiri? Bukan masalah apakah anda mampu membayar listrik atau tidak, atau apakah anda mengkonsumsi listrik/BBM bersubsidi atau membayar dengan harga pasar, namun lakukan hemat energi ini demi kelangsungan hidup umat manusia di bumi ini. Ingat, bumi ini diserahkan Tuhan kepada umat manusia tidak untuk dirusak, tapi untuk dikelola dengan sebaik-baiknya.

Apalagi bangsa kita, rakyat kita sedang dalam kesulitan, subsidi dikurangi dimana-mana, pemerintah mengurangi belanja untuk pembangunan. Untuk apa itu semua? Hanya gara2 untuk menutup subsidi energi (BBM dan listrik) di tengah membumbungnya harga minyak dunia.

apbn2008.jpg

Tidak terbayangkan lagi jika subsidi akhirnya harus menggerogoti anggaran yang berwarna hijau (social assistance). Apakah kita akan membiarkan rakyat jelata, anak-anak, bayi dan orang2 tua kelaparan?

Jika anda tidak rela melakukan hal2 yang mudah seperti mematikan lampu yang sudah tidak digunakan, lebih memilih transportasi umum daripada kendaraan pribadi (bila memungkinkan), mengganti lampu pijar dengan lampu fluorescent, menanam pohon / menghijaukan lingkungan, maka…

 I think you are the most selfish person on the planet.

(Two Weeks Notice)

Awan Tag

Nulis Apaan Aja Deh

all about electricity (indonesia)