all about electricity (indonesia)

Posts tagged ‘electric’

Sekilas Bisnis Listrik U.S. di 2011

Cukup lama saya tidak menulis, tugas baru yang saya kerjakan benar-benar menyita waktu. Kali ini saya coba berbagi berita terbaru (2011) dari majalah-majalah yang berkecimpung dalam bisnis listrik yang ternama seperti IEEE Spectrum dan IEEE Power & Energy Magazine.

Dari Spectrum edisi January 2011, ada sebuah artikel pendek yang memberitakan U.S. Grid Gets Less Reliable. Wow, tentu saja agak mengejutkan, karena selama ini Amerika (US) adalah kiblat teknologi sistem tenaga listrik. Sampai-sampai sering kita membandingkan  (benchmark) indeks kinerja “kelas dunia” dengan indeks kinerja di Amerika Utara (NERC). Dalam artikel tsb. disebutkan bahwa kinerja sistem tenaga listrik di US memburuk dalam 15 tahun terakhir. Dalam setahun, rata-rata lama gangguan (pemadaman listrik) mencapai 92 menit di area Midwest dan 214 menit di area Northeast. Bandingan dengan Jepang yang rata-rata hanya padam 4 menit per tahun. Data EIA (Energy Information Administration Departemen Energi US) dan NERC (North American Electric Reliability Corp.) menunjukkan bahwa gangguan  meningkat. Jika pada periode tahun 2000-2004 ada 156 pemadaman yang lebih besar dari 100 MW, maka di periode 2005-2009 meningkat menjadi 264 gangguan. Demikian pula untuk pemadaman yang mempengaruhi lebih dari 50000 pelanggan, jika pada periode 2000-2004 ada 149 gangguan, maka pada periode 2005-2009 menjadi 349 buah.

Kenapa hal ini bisa terjadi? Sejak tahun 1995, amortisasi dan tingkat depresiasi telah melebihi belanja pembangunan infrastruktur sistem. Dengan kata lain, dalam 15 tahun terakhir, industri STL (utilities) lebih banyak “memanen” daripada “menanam”. Akibatnya STL menjadi semakin tertekan. Biaya penelitan dan pengembangan (R&D) di sektor kelistrikan turun 74%, dari $741 juta di tahun 1993 menjadi hanya $193 juta di tahun 2000. Jika dibandingkan dengan revenue, biaya R&D ini hanya 0.3% (untuk periode 1995-2000). Bandingkan dengan sektor-sektor industri yang lain, misal industri komputer 12.8%, farmasi 10.4% bahkan industri hotel pun ternyata lebih intensif mengeluarkan biaya R&D di level 0.7%. Dengan berinvestasi pada STL sebenarnya biaya ini akan kembali dalam bentuk menghindari meningkatnya gangguan dan perbaikan efisiensi. Jadi seperti yang telah disebutkan dalam artikel terdahulu, terlihat dengan sangat jelas trade-off antara reliability vs cost.

Masih terkait dengan hal itu, pemerintah US memberikan stimulus $3.4 milyar untuk mengembangkan smartgrid. Jadi, dalam pasar bebas seperti di Amerika sekali pun, campur tangan pemerintah dalam industri kelistrikan masih diperlukan. Salah satu hal kritis dalam pengembangan ini adalah tenaga kerja terampil yang dibutuhkan untuk mengimplementasikan dan memelihara smartgrid. Yang semakin menyulitkan pengelola kelistrikan disana adalah ternyata sekitar 60% mahasiswa pasca sarjana di bidang kelistrikan, yang diharapkan akan terjun sebagai profesional, adalah mahasiswa internasional yang besar kemungkinan tidak akan bekerja di US setelah mereka lulus nantinya. Singkat cerita, US mengalami kesulitan mendapatkan tenaga kerja profesional di bidang kelistrikan, sehingga salah satu proposal yang diajukan untuk mendapatkan award adalah living laboratory, smartgrid education and workforce training at IIT. IIT juga diminati oleh dunia internasional seperti Korea Selatan dan Italia, yang menyadari bahwa pengembangan smartgrid mustahil dicapai tanpa didukung pekerja yang profesional.

Lanjutan Contoh Penyelesaian Aliran Daya Listrik dengan Metode Newton-Raphson, Decoupled dan Fast Decoupled Load Flow (2)

Melanjutkan tulisan terdahulu, kita sudah mempelajari bagaimana menyelesaikan aliran daya di 3 bus secara analitis, baik dengan metode Newton-Raphson maupun dengan DLF dan Fast Decoupled Load Flow. Kita juga sudah belajar mengenal software PowerWorld yang membantu kita menganalisis STL. Sekarang kita akan mengkonfirmasi hasil-hasil perhitungan kita dengan software PowerWorld ini.

Yang pertama kita simulasikan dengan metode NR, hasilnya sbb:

3-bus-nr1

Bus Records from Powerworld’s Full Newton Load Flow Solution

Name

PU Volt

Angle (Deg)

Load MW

Load Mvar

Gen MW

Gen Mvar

1

1

0

99.96

25.77

2

1.03

1.32

400

418.55

3

0.93437

-5.38

500

350

Yang kedua kita simulasikan dengan memilih algoritma FDLF, yang hasilnya sbb:

3-bus-fdlf

Bus Records from Powerworld’s Fast Decoupled Load Flow Solution

Name

PU Volt

Angle (Deg)

Load MW

Load Mvar

Gen MW

Gen Mvar

1

1

0

99.99

24.41

2

1.03

1.31

400

417.13

3

0.93485

-5.35

500

350

Ternyata perbandingan hasil kalkulasi tangan/manual dengan hasil perhitungan software sangat dekat, sehingga kita dapat memastikan bahwa kita menggunakan metode NR, DLF dan FDLF dengan benar.

Selain PowerWorld, sebenarnya ada banyak software yang dapat membantu kita menyelesaikan aliran daya STL, termasuk PSS®E dari Siemens yang merupakan software “wajib” yang banyak dipakai oleh designer ataupun operator STL di seluruh dunia.

pss-e

Untuk para akademisi/pelajar, biasanya juga banyak memakai Matlab untuk menyelesaikannya. Di Matlab kita harus teliti, namun selama kita memahami algoritmanya, hasilnya juga akan sama dengan software2 lain.

matlab

Source code Matlab dengan metode NR untuk permasalahan ini :

% % Question #5A Newton-Raphson method

% Modified from Saadat’s Power System Analysis Example 6.10

clear; clc;

V = [1.0; 1.03; 1.0];

d = [0; 0; 0];

Ps=[4 ; -5];

Qs= -3.5;

YB = [ -j*75 j*50 j*25

j*50 -j*75 j*25

j*25 j*25 -j*50];

Y= abs(YB); t = angle(YB);

iter=0;

while iter < 2

iter = iter +1

P=[V(2)*V(1)*Y(2,1)*cos(t(2,1)-d(2)+d(1))+V(2)^2*Y(2,2)*cos(t(2,2))+

V(2)*V(3)*Y(2,3)*cos(t(2,3)-d(2)+d(3));

V(3)*V(1)*Y(3,1)*cos(t(3,1)-d(3)+d(1))+V(3)^2*Y(3,3)*cos(t(3,3))+

V(3)*V(2)*Y(3,2)*cos(t(3,2)-d(3)+d(2))];

Q= -V(3)*V(1)*Y(3,1)*sin(t(3,1)-d(3)+d(1))-V(3)^2*Y(3,3)*sin(t(3,3))-

V(2)*V(3)*Y(3,2)*sin(t(3,2)-d(3)+d(2));

J(1,1)=V(2)*V(1)*Y(2,1)*sin(t(2,1)-d(2)+d(1))+

V(2)*V(3)*Y(2,3)*sin(t(2,3)-d(2)+d(3));

J(1,2)=-V(2)*V(3)*Y(2,3)*sin(t(2,3)-d(2)+d(3));

J(1,3)=V(2)*Y(2,3)*cos(t(2,3)-d(2)+d(3));

J(2,1)=-V(3)*V(2)*Y(3,2)*sin(t(3,2)-d(3)+d(2));

J(2,2)=V(3)*V(1)*Y(3,1)*sin(t(3,1)-d(3)+d(1))+

V(3)*V(2)*Y(3,2)*sin(t(3,2)-d(3)+d(2));

J(2,3)=V(1)*Y(3,1)*cos(t(3,1)-d(3)+d(1))+

V(2)*Y(3,2)*cos(t(3,2)-d(3)+d(2));

J(3,1)=-V(3)*V(2)*Y(3,2)*cos(t(3,2)-d(3)+d(2));

J(3,2)=V(2)*V(3)*Y(3,2)*cos(t(3,2)-d(3)+d(2))+

V(1)*V(3)*Y(3,1)*cos(t(3,1)-d(3)+d(1));

J(3,3)=-V(1)*Y(3,1)*sin(t(3,1)-d(3)+d(1))-2*V(3)*Y(3,3)*sin(t(3,3))-

V(2)*Y(3,2)*sin(t(3,2)-d(3)+d(2));

DP = Ps – P;

DQ = Qs – Q;

DC = [DP; DQ]

J

DX = J\DC

d(2) =d(2)+DX(1);

d(3)=d(3) +DX(2);

V(3)= V(3)+DX(3);

V, d, delta =180/pi*d;

end

P1= V(1)^2*Y(1,1)*cos(t(1,1))+V(1)*V(2)*Y(1,2)*cos(t(1,2)-d(1)+d(2))+

V(1)*V(3)*Y(1,3)*cos(t(1,3)-d(1)+d(3))

Q1=-V(1)^2*Y(1,1)*sin(t(1,1))-V(1)*V(2)*Y(1,2)*sin(t(1,2)-d(1)+d(2))-

V(1)*V(3)*Y(1,3)*sin(t(1,3)-d(1)+d(3))

Q2=-V(2)*V(1)*Y(2,1)*sin(t(2,1)-d(2)+d(1))-V(3)*V(2)*Y(2,3)*

sin(t(2,3)-d(2)+d(3))-V(2)^2*Y(2,2)*sin(t(2,2))

P_loss = P1+4-5

Q_loss = Q1+Q2-3.5

Kode Matlab dengan FDLF :

% Question #5C Fast decoupled method

% Modified from Saadat’s Power System Analysis Example 6.12

clear; clc;

V1= 1.0; V2 = 1.03; V3 = 1.0;

d1 = 0; d2 = 0; d3=0;

Ps2=4; Ps3 =-5;

Qs3= -3.5;

YB = [ -j*75 j*50 j*25

j*50 -j*75 j*25

j*25 j*25 -j*50];

Y= abs(YB); t = angle(YB);

B1 =[-75 25; 25 -50]

Binv = inv(B1)

iter=0;

while iter < 2

iter = iter +1;

P2= V2*V1*Y(2,1)*cos(t(2,1)-d2+d1)+V2^2*Y(2,2)*cos(t(2,2))+

V2*V3*Y(2,3)*cos(t(2,3)-d2+d3);

P3= V3*V1*Y(3,1)*cos(t(3,1)-d3+d1)+V3^2*Y(3,3)*cos(t(3,3))+

V3*V2*Y(3,2)*cos(t(3,2)-d3+d2);

Q3=-V3*V1*Y(3,1)*sin(t(3,1)-d3+d1)-V3^2*Y(3,3)*sin(t(3,3))-

V2*V3*Y(3,2)*sin(t(3,2)-d3+d2);

DP2 = Ps2 – P2; DP2V = DP2/V2;

DP3 = Ps3 – P3; DP3V = DP3/V3;

DQ3 = Qs3 – Q3; DQ3V = DQ3/V3;

DC =[DP2; DP3; DQ3];

Dd = -Binv*[DP2V;DP3V];

DV = -1/B1(2,2)*DQ3V

d2 =d2+Dd(1);

d3 =d3+Dd(2);

V3= V3+DV;

angle2 =180/pi*d2;

angle3 =180/pi*d3;

disp(‘ iter d2 d3 V3 DP2 DP3 DQ3’);

R = [iter d2 d3 V3 DP2 DP3 DQ3]

end

Q2=-V2*V1*Y(2,1)*sin(t(2,1)-d2+d1)-V2^2*Y(2,2)*sin(t(2,2))-

V2*V3*Y(2,3)*sin(t(2,3)-d2+d3);

P1= V1^2*Y(1,1)*cos(t(1,1))+V1*V2*Y(1,2)*cos(t(1,2)-d1+d2)+

V1*V3*Y(1,3)*cos(t(1,3)-d1+d3);

Q1=-V1^2*Y(1,1)*sin(t(1,1))-V1*V2*Y(1,2)*sin(t(1,2)-d1+d2)-

V1*V3*Y(1,3)*sin(t(1,3)-d1+d3);

S1=P1+j*Q1

Q2

P_loss = P1+4-5

Q_loss = Q1+Q2-3.5

Kenapa Harus Ada Tanda Conjugate pada Rumus Daya Kompleks

Salah satu formula yang telah saya pakai selama bertahun-tahun, tepatnya semenjak mulai menginjak bangku kuliah, adalah rumus daya kompleks (apparent power). Dimana kita menemukan daya kompleks? Kalau bicara definisi, tentu tanyakan saja pada Wikipedia. Tapi dalam real life, daya kompleks bisa ditemukan pada besarnya daya listrik yang dilanggan konsumen ke PLN, misal 900 VA, 1300 VA, 2200 VA dst. Jadi harus dimengerti, kita tidak berlangganan dalam Watt tapi VA. Rumusnya sendiri sederhana,

S = VI*    

dimana S adalah daya kompleks dalam satuan VA (volt ampere), V adalah tegangan dalam V (volt) dan I adalah arus dalam A (ampere). Hubungan antara S (daya kompleks), P (daya nyata) dan Q (daya reaktif) sering digambarkan dalam segitiga phytagoras ini.

   Power Triangle  SPQSPQ

Rumus ini sebenarnya adalah generalisasi dari rumus daya nyata listrik (real power), P = V.I, yang telah kita kenal sejak SMP. Bedanya adalah ketika SMP kita menghitungnya sebagai besaran skalar, besaran yang hanya mempunyai “besar” (magnitude), sedangkan V dan I pada S = VI* merupakan besaran vektor, besaran yang mempunyai magnitude dan arah, walaupun ketika V dan I arahnya 0 derajat maka nilainya sama dengan jika kita menganggap V dan I sebagai besaran skalar. Untuk membedakannya, ilmuwan biasanya menuliskan besaran skalar dengan tanda || di antara besaran tersebut, misal ||V|| berarti “besar” V, sedangkan jika ingin menulis besaran vektor maka V tadi akan ditulis dengan huruf italic atau cetak miring, V, atau dengan ditambahi garis di atas atau di bawahnya. Namun by default atau dengan sendirinya, dalam konteks perhitungan phasor, biasanya semua nilai V dan I akan dianggap sebagai besaran vektor.

Nah, yang menjadi pertanyaan adalah kenapa harus ada tanda conjugate (tanda bintang * di sisi kanan atas I) dalam rumus ini. Bertahun-tahun rumus ini saya gunakan sebagai sesuatu yang “given”, walaupun saya tahu ada pembuktian identitas matematisnya. Dan bagi yang tahu pembuktian matematis seperti apa, akan mafhum. Pelajar yang pas-pasan seperti saya, langsung akan merasa berkunang-kunang matanya melihat deretan angka, huruf, simbol-simbol matematis yang mempunyai arti sendiri-sendiri dan saling berhubungan.

Conjugate sendiri berarti adalah perintah untuk merubah tanda minus menjadi plus atau sebaliknya, plus menjadi minus pada elemen imajiner dalam bilangan kompleks.

Misalkan saya mempunyai bilangan kompleks I = 3 – j4, maka complex conjugate dari I adalah I* = 3 + j4, atau jika dalam bentuk polar jika  lima min maka lima plus. Sedangkan j atau kadang ditulis sebagai i adalah simbol bilangan imajiner yang nilainya j = i = √-1.

Konsep lain yang perlu diketahui sebelum menjawab pertanyaan ini adalah tentang faktor daya (power factor atau pf) yang nilainya adalah cosinus beda sudut antara phasor V dan I.

Misalkan kita ingin mengalikan V sudut θ1 dengan I sudut θ2 untuk mendapatkan nilai daya kompleks maka hasilnya adalah  wrong VI, dan hal ini tentunya bertentangan dengan konsep faktor daya yang menyebutkan  dalam cos θ adalah beda sudut antara V dan I.

Jadi, seseorang (saya belum baca sejarahnya) yang jenius di bidang ini, menambahkan tanda conjugate pada nilai I. Apa guna conjugate ini? Tentu saja agar didapatkan nilai S yang konsisten, sesuai dengan konsep faktor daya tadi.

Mari kita tulis ulang lagi persamaannya,

SEquation

sehingga sesuai dengan pengertian daya kompleks adalah hasil perkalian dari tegangan dan arus dengan sudut sebesar selisih beda phasa diantara tegangan dan arus itu. By the way, konsep ini, yang kelihatannya seperti konsep electrical engineering for idiot, adalah jawaban dari seorang guru besar a.k.a. professor ketika menjawab pertanyaan mahasiswanya, yang lumayan geblek juga hehe..

Rekan-rekan, ada tambahan penjelasan tentang artikel ini dari pak Agung Sarwono. Terima kasih kepada beliau untuk sharingnya.

Yth Bpk Imaduddin,

Perkenankan saya menanggapi masalah mengapa harus pakai conjugate pada vektor arus pada saat menghitung daya, yaitu S = V I*, jawabnya sederhana dan bertujuan praktis. Demikian pak, sebagaimana kita ketahui pada umumnya sifat beban pembangkit adalah induktif yang mempunyai vektor arus arah negatif (lagging pf). Lha dengan diconjugate beliau akan menjadi positif, sehingga hasil perkalian dengan vektor tegangan akan menghasilkan nilai positif (S +, P + dan Q +). Hal inilah yang menggambarkan kondisi penugasan sebenarnya dari suatu pembangkit, yaitu menghasilkan daya semu, nyata dan reaktif.

Kalau menghasilkan logikanya bertanda positif, P+, S+ dan Q+ dan sebaliknya kalau menerima (motoring/reverse power) tanda berbalik menjadi negatif, misalnya P-, S-,Q-. Hal ini juga mendasari mengapa tanda “male” diberi coret positif di ekornya untuk menandai daya aktif mengalir keluar pembangkit (P+) dan daya reaktif induktif (Q+) diberi juga coret positif di tanda “female” yang artinya pembangkit pada saat itu mengirim atau melayani daya reaktif induktif (over excited).

Demikian, semoga bermanfaat.   

Salam. Agung Sarwono EL ITB 77.

Indonesia Power’s IPO, to Be or Not to Be, That is Not the Question!

     

Pasuruan, July 2006  

Life… should be enjoyed. You do your daily job in the right manner and being nice with your comrades. When you come to the age of 56[3], you will receive your gratuity as the result of 30 years, maybe more…, of your work dedication to our company. You will look after your grandchild or you might still do your own business, when we enter our pension days. I myself plan to expand my current business in fruits plantation and inter-villages transportation.”  

“What do you mean by inter-villages transportation? What kind of business is that?”  

“Uh-uh, it’s simple. My business is to help people of one village to go to another village by public utility vehicle. I used Carry 1.0 as my armada.” 

“Wait a sec… Did you say “Carry 1.0″?”  

“Yup… Is there anything wrong with that?”  

“No, no… Do not get me wrong. I think you just want to explain to me that you are an “angkot” businessperson. I couldn’t be wrong this time, could I?”  

“Haha… You still missed a little this time, boy… Not “angkot”, but “angdes” = angkutan pedesaan = inter-villages public means of transportation. Although the four-wheel vehicles we used in village are the same kind with they used in town, as a businessperson I must say that they are different! If you are interested in my business, you can join me, boy… :)”  

  

This dialogue was the conversation between my senior and me a while ago. He has been working in PLN (now in Indonesia Power) for more than 25 years as an electric power plant operator. He is very rich if we use “an ordinary PLN employee” criteria. Imagine that he has 14 public cars (completed with the operational permits from DLLAJR), several acres of various fruits plantation (banana, mango, durian, avocado, rambutan, jackfruit for examples), and several cows in his ranch and dogs in his house to guard his properties… Ups! Just kidding, he loves animal, which is why he bred animals such as dog, cat, swan, cow, and goat.  

His family has a blue-blood background in Javanese culture and has many businesses long before Mr. Andi (the nickname he likes to use) entered the PLN 25 years ago. The conversation gives us a brief illustration about an ordinary PLN employee, which has a dream about his retirement days. Of course, not every employee is as lucky as he is. Many of us (including me) only rely on the company (PLN) as the only source of our living income. When the time or the age of 56 comes to us, we have to accept the reality that we must continue to survive our live with the pension money we get from our company. We should thank to God that our company, until now, still give us allowance for our health cares, including for the retired employees.  

Unfortunately, that would not last forever. The allowances for the retired employees depend on the company’s financial ability. Our company financial ability depends on the ability of the company to survive. In this globalization era, the competition between countries forces every country to use their best efforts to survive. In the past days, the government still supports its state-owned companies, since they are the locomotive for the development of the country. Now, BUMN (state-owned company) faces challenges that are more complex. Not only they have less support from the government, they must be more competitive than ever since the government cannot protect the markets. This is the consequence of the free trade market agreement, which is initiated by the WTO (World Trade Organization)[4]. Almost all countries in the world has already signed the treaty except a few isolated countries, such as Vietnam, North Korea. I do not say the communist would not join the treaty; People’s Republic of China (China mainland) in fact has joined the treaty since 2001[5] and has used the advantages to spread the markets of their products. We all know that “made in China” products has overwhelmed everywhere. As we know now, not only motorcycles are made by China, they also can produce electric power plant. Now we can see this China made-steam power plant in Cilacap[6], Central Java.  

This should wake all of us from our daydreaming. The dream about our PT Indonesia Power-full (IP) ability to dominate the Java-Bali electricity market share or that we will never get bankrupt. Statistics showed us that IP market share in Java Bali electric power grid tends to decrease from 57% to 46% in the last decade[7]. The growth of the IPP (Independent Power Producer) pushes IP market share. IP President Director, Mr. Abimanyu Suyoso, has given his vision about IPO (Initial Public Offering) to overcome this challenge recently. Here is the interview between him and the journalist from one foreign media:[8]  

The Unitedworld-USA journalist (UW):  

“You have indeed been a very stable organization in Indonesia while the market has been continually changing.”  

Mr. Abimanyu Suyoso (AS):  

“Our Initial Public Offering, planned for next year, will add great value to Indonesia Power, as it will increase the investor’s confidence in our company. I want Indonesia Power to be a top world-class company. Indonesia Power is already better than most of the North American Power companies in terms of operational performance.”  

UW:  

“Do you have a final message to our readers?”  

AS:  

“There are five reasons why investors should be interested in Indonesia Power. Firstly, electricity demand in Indonesia is booming. Secondly, Indonesia Power has outstanding operational performance. Thirdly, Indonesia Power has excellent financial records. Fourthly, we have plans to build an extensive network of new power plants. And finally, nobody knows the market better than we do.”  

An optimistic vision about IP future we can conclude from the conversation. IP Board of Director promotes IPO not only to the investors but also to our employees. Even though there are questions from several IP employees, the BOD seems to be very optimistic about IPO. The controversy about “the company sale” (terminology borrowed from some commoner employees) has been answered by the BOD. One crucial issue is about the possibility of company’s human resources restructurisation. In another words, they are afraid to be fired and lost their job. However, the BOD convinced us that the IPO would make the company more sustainable. Here is news from one mass media:  

“PT Indonesia Power, a subsidiary of the ailing state-owned electricity monopoly PT Perusahaan Listrik Negara (PLN), will launch its initial public offering (IPO) in the first half 2006. While the amount of shares to be floated yet to be decided, the company needs at least Rp6 trillion (US$600 million) to develop its power generating capacity to cope with increasing domestic demand for electricity which is estimated to grow 7%-9% per year. [9]  

Indonesia Power currently has 9,000 MW capacity and needs additional capacity 630 MW per year. With investment cost of US$100 million per 100 MW and capital expenditure available at US$25 million, the company is powerless. The company serves the lucrative Java and Bali market and has a 50 per cent market share. Fortunately, that most of its power plants are combined cycles, gas-fired, and coal-fired, which normally have lower production costs than diesel-fired power plants. Abimanyu Suyoso, president director of Indonesia Power, said the company has equity of Rp44 trillion. IPO would sell around 10% of the equity, which could reach Rp4.2 trillion. Loans are expected to fill the financing gap, as its debt to ratio is 20%. Roadshow to attract investors has been conducted in various cities such as Singapore, Los Angeles, Boston, and New York.[10]  

   

What is about a possible joint venture with private investors? Nope, Abimanyu said. IP needs IPO as the gate to financial market to change the company’s financial structure to, let say, 80% loans and 20% equity. Unlike its parent company, IP booked net profit in the last four years. In 2003, IP booked net profit of Rp1.21 trillion (around US$130 million). PLN booked net loss of US$450 million in the first half 2005.”[11]  

I am glad that Mr. Andi, my colleague I have mention above, and all employees could enjoy his pension days with the sustainable of our company’s life. We just hope that nothing goes wrong in our company’s decision in the future. Even though PT Indonesia Power IPO has been delayed for some reasons[12] (read about 10000 MW PLTU crash program project), the path of our company in the future has been defined. IP will be more efficient and accountable[13]. Not agony but happiness of the brighter future soon will be in reality.  

I dedicate this article to our senior employees who teach us, junior employees, with patience, trust and happiness.  


[1] Quoted from William Shakespeare’s play with a little additional word: The Tragedy of Hamlet, Prince of Denmark (Act 3, Scene 1)  

[3] It is according to the 2006 Indonesia Power PKB (Perjanjian Kerja Bersama) as a normal pension.  

[4] For more information about WTO, click its website at http://www.wto.org/  

[5] Ibid  

[6] See http://www.apbi-icma.com/news.php?pid=1685&act=detail  

[7] See http://www.unitedworld-usa.com/reports/asean/indinterview.asp  

[8] Ibid  

[9] Quoted from http://yosef-ardi.blogspot.com/2005/12/indonesia-powerless-ipo.html  

[10] Ibid  

[11] Ibid  

[12] See http://www.kapanlagi.com/h/0000072293.html  

[13] Ibid (a statement from Deputy of State Owned Enterprises Ministry Republic of Indonesia)  

Awan Tag

Nulis Apaan Aja Deh

all about electricity (indonesia)