all about electricity (indonesia)

Klasifikasi Bus

Melanjutkan tulisan terdahulu tentang steady state power system analysis, ada baiknya kita memahami komponen-komponennya lebih dalam. Salah satunya adalah “bus”. Bus disini berasal dari kata “busbar”. Dalam tiap bus, ada 4 hal yang ingin kita ketahui nilainya :

  1. Daya Aktif, P
  2. Daya Reaktif, Q
  3. Besar Tegangan, |V|
  4. Sudut Tegangan, δ

Dalam tiap bus di sistem yang dianalisis, dua dari empat hal di atas akan diketahui, sedang dua lainnya yang akan dicari. Tiap bus dalam sistem dapat dikelompokkan berdasarkan dua hal yang diketahui tersebut. Biasanya bus dikelompokkan sebagai :

Slack Bus 

Slack bus dalam sebuah sistem hanya satu, dimana besar dan sudut tegangan diketahui/ditentukan. Daya aktif dan reaktifnya tidak diketahui. Bus yang dipilih sebagai slack bus harus mempunyai sumber daya aktif dan reaktif. Hal ini karena daya yang diinjeksikan ke bus ini harus bisa “berubah-ubah” agar didapat solusi dalam STL. Pilihan terbaik untuk slack bus memerlukan pengalaman dalam sistem yang dianalisis( biasanya ada lebih dari satu bus yang memiliki sumber daya aktif dan reaktif). Sifat dari sebuah solusi sering dipengaruhi oleh pemilihan slack bus.

Slack bus juga sering disebut sebagai Reference bus. Artinya, bus lain dibandingkan propertinya terhadap reference bus ini. Oleh sebab ini lah, salah satu tips untuk memulai perhitungan load flow, biasanya dilakukan dengan memberi nilai tegangan dan besar sudutnya dengan 1\angle 0 p.u. , atau yang disebut sebagai flat start. Flat start ini dilakukan dengan asumsi, nilai tegangan dan sudut pada bus lain yang akan dicari, nilainya tidak akan jauh-jauh dari 1\angle 0 p.u.

Load Bus (P-Q Bus)

Load bus diartikan sebagai sembarang bus yang beban daya aktif dan reaktifnya diketahui. Load bus dapat memiliki generator yang keluaran daya aktif dan reaktifnya diketahui. Namun demikian, lebih enak jika kita menyebutkan sembarang bus yang diinjeksi daya kompleks yang ditentukan sebagai load bus.

Voltage Controlled Bus (P-V Bus) 

Sembarang bus yang besar tegangan dan daya aktif yang diinjeksikan telah ditentukan, dikelompokkan sebagai bus yang tegangannya dikendalikan (P-V Bus). Daya reaktif yang diinjeksikan ke dalam bus ini bersifat variabel, artinya dapat berubah-ubah dalam batas tertentu (batas atas dan batas bawah). P-V Bus harus mempunyai sumber daya reaktif variabel, contohnya terhubung dengan generator.

Dalam kenyataan, biasanya kita akan menganggap P-V Bus sebagai Generator Bus karena generator memiliki kemampuan mengubah-ubah (variabel) daya reaktifnya, untuk  menjaga agar besar tegangan di busnya tetap.

Comments on: "Klasifikasi Bus" (7)

  1. assalam mas….
    saya mau nanya ni….kalo hubungan antara daya reaktif sama kestabilan tegangan itu gimana penjelasannya?? trims..

  2. juragan..kalo punya waktu sempet-sempetin main ke sini yaaaa….biar anak elektro di kaskus punya tempat nongkrong nih linknyaaa: http://www.kaskus.us/showthread.php?t=1894801

  3. saya mengambil TA tentang busbar kira2 ada ga ya buku yg membahas tentang penggantian busbar….saya agak bingung mencari referensi

  4. Mungkin buku “Electric power substations engineering” by John Douglas McDonald akan membantu. Atau bapak bisa berkunjung ke perpustakaan salah satu pembangkit listrik besar, biasanya disitu ada switchyard O/M manual dari pabrikan.

  5. Pak izin bertanya
    misalkan dalam sistem eksisting, ada sebuah bus PV.di bus tersebut sudah ada generator.
    Nah, bila ada kasus penambahan sebuah generator dengan kapasitas daya tertentu, bagaimana integrasinya dengan bus PV tersebut.

    P dan V yang harus di set tetap di bus tersebut, apakah tetap mengikuti setting awal, atau mengikuti setting generator baru?
    integrasi generator baru ke bus pv tsb,, bagusnya diparalel ya pa? kalau begitu kita perlu trafo untuk menyamakan tegangan generator baru dengan tegangan bus??

    terima kasih pak..

    • Pak Robin,

      Pada prinsipnya generator yang akan sinkron ke suatu jala2 (grid) harus memenuhi syarat2 sinkron seperti harus menyamakan frekuensi (putaran generator dibuat sedikit lebih tinggi), tegangan, urutan fasa dan fasa (dengan synchroscope). Jadi jika syarat-syarat tersebut terpenuhi generator baru bisa masuk ke bus tsb. Prinsipnya generator yang masuk harus mengikuti tegangan dan frekuensi sistem (yang akan dimasukinya). Biasanya tegangan generator (untuk kelas puluhan sampai ratusan MW) berkisar beberapa sampai belasan kV. Tegangan di bus pada Gardu Induk Tegangan Tinggi 150 kV dan di GITET (GI Tegangan Ekstra Tinggi) 500 kV sehingga listrik yang dari generator harus dinaikkan dulu tegangannya melalui step-up transformer.

      Yang menarik adalah bagaimana jika tegangan di bus tidak normal, misalnya lebih dari 10% dibawah tegangan nominal ? Apakah generator harus mengikutinya ? Semoga di lain waktu saya berkesempatan menulis studi kasus ini.

  6. iya,,,saya kan TA nya reconductoring busbar d GI bdg selatan…jd penggantian busbar 150KV di GI..krn ada pertambahan unit pmbngkt d wng windu dan kamojang….saya bingung untuk rumus2 pada busbar itu sendiri…trimakasih sebelumnya mas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

Nulis Apaan Aja Deh

all about electricity (indonesia)

%d blogger menyukai ini: