all about electricity (indonesia)

Judul tulisan saya ini mungkin mengingatkan teman2 sekalian dengan model judul2 sebangsa paper, skripsi, thesis dkk. Tidak perlu mengerutkan kening dulu, disini saya tulis ulang paper saya dalam bahasa “manusia“, bahasa yang lebih dimengerti oleh kita2 hehe..

Kenapa Ada Sistem Tenaga Listrik yang Terisolasi..

Di dunia ini, banyak daerah pedalaman atau sebuah pulau terpencil, yang tidak terhubung dengan grid/STL yang besar. Alasan utama kenapa tidak dikonek biasanya karena pertimbangan ekonomis. Bayangkan saja misalnya, berapa biaya yang dibutuhkan untuk menggelar kabel laut dari pulau Karimun Jawa, jika ingin kita hubungkan dengan Tanjung Jati/Jepara di pulau Jawa. Contoh lain adalah STL terisolasi di daerah pertambangan seperti di Freeport, Papua. Di daerah tambang seperti itu, bebannya cukup tinggi, namun dipasok dari pembangkit listrik lokal yang ada disitu, tidak dipasok dari grid.

Permasalahan di Isolated Grid..

STL di jala2 terisolasi biasanya menggunakan pembangkit listrik dengan biaya operasi mahal, seperti mesin diesel dan turbin gas. Untuk mengurangi operational cost, biasanya orang berpikir menggunakan pembangkit listrik dari sumber energi terbarukan (renewable energy sources/RES). Sayangnya RES ini bukan tanpa persoalan. Energi listrik dari sumber energi terbarukan menyimpan masalah2 yang sering tidak diketahui oleh orang awam.

Permasalahan pertama adalah ketidakstabilan energi listrik yang dihasilkan dari RES. Contoh yang paling jelas adalah turbin angin. Permasalahan kedua, baik pembangkit dari sumber konvensional maupun RES, kadang tidak mampu mengikuti fluktuasi beban yang sangat dinamis, jika hal ini terjadi di sistem yang terisolasi. Rule of thumb bagi RES adalah pembangkit RES konsentrasinya tidak boleh terlalu besar karena akan mengganggu  kestabilan sistem. Australia bahkan cuma memproyeksikan pembangkit dengan RES maksimal di angka 20% saja. PSS (Power System Stabilizer) biasanya juga tidak ada di sistem kecil yang terisolasi.

Contoh Kasus: STL di sebuah Tambang Batubara

Pada ilustrasi di atas, sistem ini tidak membutuhkan Flywheel Energy Storage System (FESS) jika tidak ada beban berupa Dragline. Dragline adalah alat berat yang biasa dipakai di surface mining. Jika Dragline dioperasikan, maka frekuensi akan sangat goncang jika tidak distabilkan oleh FESS. Aplikasi flywheel ini sendiri sebenarnya juga sudah lama dikenal di generator2 hidro. Perbedaannya, FESS sekarang banyak dikombinasikan dengan peralatan elektronika daya seperti inverter, capacitor berikut controller2-nya.

Sistem ini dimodelkan dengan VisSim menjadi sbb:

 

Hasil Simulasinya..

Dari hasil simulasi ini terlihat bahwa FESS melepas energi ketika beban (Dragline) menyerap energi secara drastis. FESS menyerap energi ketika Dragline tidak terlalu berbeban. Mungkin ada pertanyaan, apa keunggulan FESS dalam kasus ini dibanding pengaturan frekuensi secara konvensional. FESS punya kelebihan dalam hal kecepatannya dalam menyerap dan melepas energi. Mekanisme penyimpanan energi sebenarnya ada beberapa metode (capacitor, batere, PLTA Pompa, dll) dengan kelebihan dan kekurangannya. FESS dalam hal ini diyakini akan mampu meningkatkan penetrasi pembangkit dengan RES sampai dengan 33%.

Comments on: "Penggunaan Flywheel Energy Storage System sebagai Strategi Kontrol untuk Beban yang Sangat Fluktuatif pada Jala-jala Terisolasi" (5)

  1. capungcapungkecil said:

    makasih buat ilmu yang bermanfaat nya🙂

  2. Iman Mintardjo said:

    Ada yang sudah dikembangkan oleh PowerStore Autralia untuk maksud serupa yaitu energy yang disimpan di flywheel dengan sistem pelepasan dan penyerapan energi melalui sistem listrik, tetapi masih kapasitas kecil dengan energi tersimpan di flywheel 18 MWs pada putaran flywheel 3600 rpm
    Kalau ada yang kapasitas besar yang dapat melepas dan menyerap daya +/- 30 MW akan sangat berguna untuk kompensasi tanur listrik besar moda busur (Large electric arc furnace) yang beroperasi pada grid kecil atau isolated

  3. ku pernah dapat di makul kualitas tenaga listrikk…
    yang ku tahu efisiensi sistem ini rendah (bukunya power quality”pengarangnya lupaa”) sistem kerjanya yang saya dapat berarti dia membebani kerja generator donk… (benar apa gak???)

  4. salam Pak..
    Saya mau nanya nih, apakah AVR ama power sistem stabilizer (PSS) itu sama?
    apakah setiap pembangkit memakai PSS?

    • Jawabannya: berbeda, ada yang membantu menjawabkan,

      http://www.epanorama.net/phpBB3/viewtopic.php?f=14&t=40082

      by Tomi Engdahl on Wed May 09, 2007 1:01 pm

      My understading:

      Automatic Voltage Regulator (AVR) just tries to regulate the generator output to have the right voltage. In a conventional automatic voltage regulator (AVR) this is achieved using analogue technology, but there are many advantages in employing digital technology. There are various way to implement AVR functionality.

      A POWER SYSTEM STABILIZER (PSS) can improve the power system stability. A PSS detects the changing of generator output power, controls the excitation value, and reduces the power swing rapidly. This kind of devices are typically digital controlling devices.

      Some document links:
      http://www.meppi.com/mepssd/npdfs2/PSS.pdf
      http://www.meppi.com/mepssd/npdfs2/D-AVR.pdf
      http://www.powerdesigners.com/InfoWeb/d … R/avr.shtm
      http://www.basler.com/html/rscreg.htm

      http://www.electronicskb.com/Uwe/Forum.aspx/electrical/2928/PSS-with-AVR

      Philippe – 20 Sep 2005 00:33 GMT
      An AVR for Automatic Voltage Regulator will maintain the Stator voltage
      constant of the synchronous generator via scr bridge etc…
      The PSS can be an external control loop to help the grid recovering when
      frequency move. Usually used for very long feeder. It can be also the main
      control loop.
      The deviation signal is the difference of MW elec and MW meca.
      There is also different way to do it with a MW elec signal plus an integral
      constant.

      Tidak semua pembangkit punya PSS, karena fitur PSS ini mahal dan kompleks, hanya pembangkit besar yang biasanya punya. Menurut Grid Code SJB pada klausa C.C 3.2.1, hanya pembangkit besar atau >200MW yang wajib punya PSS. Meski demikian, dari salah satu vendor menyatakan, bisa saja dipasang di sebuah generator 35 MW atau beberapa generator dalam satu plant dengan total 75 MW, yang terhubung jaringan.

      http://www.basler.com/html/html/powersysstabilizer.htm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

Nulis Apaan Aja Deh

all about electricity (indonesia)

%d blogger menyukai ini: